Bab XVII. I Want Out
Anton sang manajer band, melihat gelagat aneh dari penonton itu. Dia segera berteriak menyuruh pihak keamanan untuk menangkap orang itu. Pistolnya yang mengarah ke atas panggung berubah arah. Ujung phyton revolver itu kini menempel di kepala pemiliknya. Kru keamanan bergerak cepat menghentikan aksi orang itu. Mereka bergerak cepat menerobos kerumunan orang panik. Jaraknya hanya 4 baris dari bibir panggung. Namun kru keamanan terlambat.
Sebuah letusan yang mirip letusan sebelumnya, kembali terdengar. Raut Wajah Anton berubah ngeri, begitu juga kru keamanan. Mereka tidak menyangka bahwa orang itu akan melakukan bunuh diri. Penonton yang tadinya panik, makin berhamburan. Saling dorong antar penonton tak terelakan. Konser Traffic Light malam itu berubah menjadi kerusuhan.
****** Life Fast Die Young ******
Suara tawa Ester menggema di tengah ruang tamu. Televisi layar datar yang menempel di dinding ruang tamu sedang menayangkan acara stand up comedy. Gadis yang duduk disebelah Ester hanya tersenyum melihat layar televisi. Keduanya duduk di atas sofa panjang hitam empuk dengan meja kaca di depan mereka. Dua buah jus stroberi dan setoples kacang mete diletakkan di atas meja kaca.
Kembali terdengar tawa Ester saat seorang pelawak yang dikenal dengan nama Arie Kriting melemparkan lawakannya pada penonton.
“Orang Papua satu ini hebat memang, B yakin Dong pasti juara,” kata Ester memuji Arie Kriting.
“Iya, bisa juga, tapi saingannya hebat-hebat lho... ada Fico, ada Babe Chabiita.”
“Ahh, B yakin Dong pasti menang... Yakin sa,” sahut Ester yang membuat gadis disebelahnya tersenyum manis. “Eh, Lu pi mana? Sebentar lagi mulai ini.”
Gadis yang dipanggil menyahut, “mau ke toilet, Ester sayang...”
“Ohh... Cepat su.”
Langkah kaki gadis itu terhenti saat anchor breaking news kompos tv menyebutkan kata “konser, penembakan, panik dan Traffic Light”. Dengan cepat gadis itu menghentikan Ester yang hendak mengganti chanel televisi.
Tampak di layar kaca, seluruh penonton berlarian panik, beberapa diantaranya terinjak oleh yang lain. Saat kamera mengarah ke atas panggung, terlihat beberapa orang berkerumun pada satu titik di atas panggung. Gadis itu mengenal mereka. Ada ada Erick, Abe, seorang soundman, dan beberapa kru yang biasa ikut serta dalam setiap konser Traffic Light. Tapi ada yang kurang...
Hati Gadis itu berdetak makin kencang. Rasa dingin mulai meyarap dari kakinya. Ketakutan itu, seumur hidup tak pernah ia rasakan. Air matanya mulai mengalir turun. Mulutnya membisikan sebuah kata. Sebuah nama.
Ester segera memeluk sahabatnya. Air mata Ester pun mulai mengalir. Keharuan gadis itu dalam sekejap dapat dirasakan oleh kawannya. Di layar televisi nampak tim medis sedang mendekati kerumunan. Seseorang dengan rambut hitam panjang ditarik dari kerumunan. Nampaknya dia menangis histeris dan berteriak-teriak, tak terima di tarik begitu saja.
“Itu... itu Radeet!!” gadis itu berteriak dan segera menghapus air matanya. Ketakutan yang hampir menguasainya tadi hilang dalam sekejap. Hampir saja bibir tipisnya menyunggingkan senyum.
“Trus kenapa kau menangis??” sahut Ester kesal.
Jadi siapa?? Pikirannya terus mengingat. Pertanyaan gadis itu segera terjawab. Kembali air matanya mengalir begitu foto tersenyum Teddy muncul di layar televisi.
“Teddy... dia orang baik... dia orang baik...” gadis itu histeris menunjuk layar televisi.
Ester sesaat memperhatikan layar televisi dan kembali memeluk sahabatnya.Gadis itu menangis keras dalam pelukan Ester. Dia menggeleng dan histeris, tak dapat menerima kenyataan. Bukan lelaki yang dia cintai, namun salah seorang yang telah dianggapnya saudara sendiri.
****** Life Fast Die Young ******
“Lu yakin mau tidur sendiri?” Ester bertanya pada sahabatnya.
“Iya Ter... aku gak pa pa kok... Kasian si Eston tuh, dari aku dateng, kamu nemenin aku terus... kalo ga dikasi jatah, nanti dia ngambek lagi...”
Ester tersenyum sambil memukul pelan lengan sahabatnya, “Lu tu yang su lama son dapat jatah.”
Mereka berdua tertawa bersamaan.
“Ya su, B balik kamar dulu e... bae-bae disini... jang galau terus...” kata Ester mengejek sahabatnya.
Gadis itu mendelik dan melemparkan bantal ke arah Ester, namun meleset karena Ester telah menutup pintu kamar. Suasana temaram cahaya di kamar itu membuat gadis itukembali diliputi kesepian dan kesedihan. Cahaya lampu tidur tak mampu menerangi kerisauannya.
Gadis itu mengambil handphone nya, membuat pola sandi dan beberapa kali menyentuh layar. Gadis itu terpaku untuk beberapa saat. Air matanya kembali mengalir, kembali bibirnya membisikan sebuah nama diantara isak tangisnya. Pada layar handphone nya, tertera tulisan “My Rockstar”, namun jari gadis itu tertahan saat akan menekan lambang telepon.
****** Life Fast Die Young ******
Erick, Abe dan Radeet duduk berderet di atas kursi panjang berwarna putih, ketiganya tampak menunduk. Sementara manajer mereka sedang berbicara serius dengan seorang polisi. Sebuah lampu berwarna merah menyala dengan terang di ujung lorong.
Anton mendatangi ketiga pemuda itu. Dia menjelaskan bahwa identitas pelaku sudah diketahui oleh pihak kepolisian. Namun nyawa pelaku sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Peluru menembus tempurung kepalanya, si pelaku mati di tempat. Info dari Anton membuat ketiganya tak bergeming, mereka lebih mengkhawatirkan kondisi Teddy.
Radeet gelisah memegang handphonenya, berkali-kali dia berusaha menghubungi seseorang. Namun berapa kalipun usahanya, nomor yang dihubungi tetap tidak aktif. Sebuah nama tertera di layar handphone nya, “Lady Rock”.
****** Life Fast Die Young ******
Puluhan orang berbondong-bondong datang ke TPU yang terletak di daerah Jakarta Selatan. Sebagian besar dari mereka adalah penggemar dan musisi lain yang ikut berbela sungkawa. Segelintir masyarakat sekitar datang hanya untuk melihat banyak artis yang datang dalam waktu bersamaan. Sungguh sebuah kejadian yang jarang terjadi.
Natasha pulang ke Indonesia mendadak, dan kini dia berdiri mendampingi Abe. Mereka berdiri di depan sebuah kubur yang masih baru. Bersama dengan Anton, Erick, Shanti dan Radeet. Mereka berdiri membisu, mengenang Teddy yang selalu ceria. Hidupnya seakan tak pernah bermasalah dan tak pernah membuat masalah.
Satu per satu para pelayat mulai meninggalkan Area makam. Hari sudah semakin sore, cahaya terakhir matahari terpantul pada kaca bingkai foto Teddy yang sedang tersenyum. Hujan rintik membuat langit seakan ikut bersedih. Sebuah sore yang muram untuk Traffic Light.
****** Life Fast Die Young ******
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya, karena tidak dapat menuntaskan tour yang masih menyisakan beberapa kota, karena sebagaimana rekan-rekan media dan para penggemar ketahui, beberapa hari yang lalu, kita... kami... kehilangan teman, sahabat dan orang yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Saya harap para penggemar untuk bersabar dan maklum dengan keputusan yang kami ambil, kami tidak menyimpan dendam pada keluarga pelaku dan menyerahkan semua keputusan kepada pihak yang berwajib. Terakhir kami mohon doanya untuk kemajuan band ini.” puluhan blitz menyala hampir bersamaan saat Anton mewakili band untuk berbicara pada puluhan wartawan saat konfrensi pers pasca kematian Teddy.
Banyak wartawan yang mengajukan pertanyaan, namun tak satupun yang ditanggapi oleh Anton dan anggota band. Konfrensi ini tampak seperti peryataan satu arah. Tanpa ada sesi tanya jawab atau apapun. Nampak kekecewaan pada wajah wartawan dari acara infotainment dan media cetak gosip.
Anton dan anggota band berdiri bersamaan setelah Anton mengucapkan kalimat penutup. Mereka berjalan menuju pintu keluar. Tiba-tiba Radeet menghentikan langkahnya dan kembali mengambil microphone di atas meja. Dia memberi kode pada soundman untuk menghidupkan kembali mic yang sudah mati.
Dia menunggu sesaat, menarik nafas panjang dan berkata, “maaf, saya hampir lupa. Karena kami kehilangan pemain bass terbaik di dunia, saya umumkan bahwa band kami vakum sampai waktu yang tidak ditentukan, terimakasih.”
Ucapan Radeet yang menggema di speaker bagaikan guntur di siang bolong. Abe dan Anton kaget bukan kepalang. Erick hanya menggelengkan kepalanya melihat kejutan dari sahabatnya itu. Puluhan wartawan yang tadinya akan membereskan peralatan, kembali mengambil foto dan bertanya dengan terburu-buru apakah keputusan itu benar atau hanya gurauan. Radeet berlalu bergitu saja tanpa memperdulikan wartawan, kru, manajer, bahkan seorang Erick yang dikenalnya hampir separuh umurnya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar