klik disini

Minggu, 19 Juni 2016

Cerita Hasrat Seorang Istri

Hana 

"Embun memberkahi pagi dengan kesejukan. Meninggalkan purnama yang tersenyum manis menyapa surya. Dengan segala ke agunganMu Tuhan, aku bersyukur atas seluruh nafas yang dapat ku hirup pagi ini".

Aku terjaga di fajar pagi, setelah melakukan ibadah wajib aku melanjutkan persiapanku menyambut hari. Aku seorang ibu dari satu anak, bidadariku yang bernama Rosi. Aku adalah istri dari seorang suami, pria yang sangat aku cintai Mas Bram. Aku sendiri seorang wanita muslimah, Hana Sasmita namaku, terlahir 31 tahun yang lalu sebagai anak tunggal. Aku adalah seorang penulis blog yang berisikan tentang pengalaman dari setiap istri dalam rumah tangga mereka. Kisah tentang kebahagian, kesedihan, kepahitan, semua aku dengarkan. Aku jawab dengan kapasitas yang aku punya. Aku bahagia bisa membantu kebanyakan pasangan untuk sekedar mendengarkan keluhan mereka dan atau memberikan mereka saran untuk menjalani biduk rumah tangga. Atas sebab kegiatanku ini, aku kini bekerja di sebuah majalah wanita ternama sebagai kepala editor untuk bidang wanita muslimah.

Pagi ini setelah menyiapkan sarapan untuk mas Bram dan bidadari kecilku rosi, aku duduk dihadapan laptopku sambil menunggu keluargaku selesai mempersiapkan pagi mereka. Pagi ini aku membuka blog ku dan seperti biasa banyak email yang masuk untuk bercerita tentang pengalaman yang mereka alami dalam rumah tangga mereka. Baru saja aku membuka email pertama, mas Bram sudah memanggilku, "bundaa, bun dasi ayah mana ya?". Aku sedikit belari menuju kamarku menemui mas bram. Aku memang lupa menyiapkan dasinya pagi ini "maaf ayah, bunda lupa menyiapkannya sekalian dengan kemeja dan jas ayah. Biar bunda ambilkan yang warna biru ya yah, biar cocok dengan stelannya." Jawabku, "iya bunda. Bunda pasti selalu tau apa yang ayah butuhkan." Jawabnya santai tanpa melihat kearahku karna mas bram sedang sibuk memakai celananya. "Bunda, bunda cantik sekali pagi ini lain dari biasanya." Dia membisikkan itu sambil memeluku dari belakang saat aku sedang memilihkannya dasi "ayah bisa saja, hari ini dan hari-hari yang lain sama saja." Sambil membalik badanku melepaskan pelukkannya aku langsung memasangkan dasi biru itu kelehernya "ayah tidak ingin terlambat kan? Maka cepatlah rapihkan pakaian ayah. Bunda akan membantu rosi, lalu kita sarapan bersama." Dan dia menjawab "bunda, ayah hanya kangen dengan bunda dan memang bunda terlihat cantik pagi ini. Sekedar memeluk tak akan membuat ayah terlambat." Aku hanya tersenyum lalu meninggalkan suamiku untuk menuju kamar rosi membantu anakku menyiapkan buku" untuk sekolahnya. Setelah selesai mengurus rosi, kami pun sarapan bersama. Lalu aku mengantarkan anak dan suamiku sampai depan gerbang rumahku. Karena hari ini aku tidak perlu kekantor, aku akan dirumah saja membaca email yang masuk ke blogku, sambil mencari inspirasi untuk halaman majalah muslimah.

Dihadapan laptopku aku terpaku, sambil terus membaca kalimat demi kalimat yang dikirimkan ke email blogku. Pagi ini aku membaca blog dari seorang wanita yang menjadi korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang dilakukan oleh suaminya. Sedang serius mengamati email tersebut, dari depan rumah terdengar suara orang yang mengetuk pintu dengan keras sambil memanggil-manggil namaku. "Hanaa, assalamualaikum han!", sambil terus mengetuk pintu dengan tidak sabar "Hannaa, ini annisaa han!", aku sedikit berlari keluar dari ruang kerjaku menuju pintu depan "iya sebentar" jawabku, saat pintu kubuka ternyata annisa sahabatku yang bertamu sambil menangis nisa langsung larut dalam pelukanku. "waalaikumsalam Ada apa niss, ko kamu nangis gini niss? Cerita sama aku ada apa?" Tapi dia tetap terus menagis "niss kalo kamu nangis terus aku gatau kamu kenapa. Ayo berhenti dulu nangisnya, terus cerita sama aku." Sambil aku bantu untuk menhapus air mata dari pipinya. "Bang rudolf han, bang rudolf!" Tangis anissa pun pecah lagi "bang rudolf sepertinya selingkuh, tapi saat aku tanya dia mengelak dan malah berlaku kasar kepada ku han, Aku takut" nisa menjelaskan sambil tetap menagis "hmm, yaudah berhenti dulu nangisnya. Baru cerita semua ke aku ya niss". Akhirnya tangis annisa pun reda, lalu annisa menceritakan semuanya tentang tanda-tanda keberadaan wanita lain serta kasarnya bang rudolf suami annisa setiap annisa menanyakan prihal itu. Annisa ini sahabatku sejak di unervitas dulu, ia sudah lama menikah dengan bang rudolf dan dikaruniai satu anak lelaki bernama dante, dante teman rosi disekolah. Kami tinggal bertetanggan dalam satu perumahan, hanya berbeda beberapa blok. 

Setelah annisa menceritakan semua aku menyuruhnya untuk lebih tenang dan sabar dalam menghadapi suaminya yang memang memiliki watak keras itu, aku pun menyarankan annisa untuk tidak terlalu suudzan terhadap suaminya kalo belum ada bukti yang kuat. "Iya han, aku ngerti ko. Mungkin akunya juga yg terlalu cemburuan sehingga membuat bang rudolf tersinggung" annisa mulai semakin tenang "iya niss, nanti aku bantu bicara sama bang rudolf ya niss" sambil tersenyum annisa pun memelukku dengan lega "makasih ya han, kamu memang baik sekali. Selalu mengerti aku. Beruntung punya sahabat seperti kamu han" aku pun tersenyum "senang bisa terus membantu niss" aku merasa senang setiap kali aku bisa memberi saran atau bahkan solusi terhadap istri yang mungkin sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya. "Tapi han, aku belum berani pulang sekarang. Aku takut bang rudolf masih marah terhadapku han" wajah annisa kembali murung dengan cemas "iya kamu istirhat saja dulu disini niss sambil menunggu dante pulang. Nanti aku coba untuk menemui bang rudolf untuk membicarakannya niss, kamu istirahat saja dikamarku niss. Aku tinggal sebentar ada yang perlu aku beli dan sekalian mampir menemui bang rudolf niss, kamu ga apa-apa kan aku tinggal?" Aku bertanya "justru aku yang yang ga enak, apa aku ga apa-apa sendirian dirumah km han?", "ga apa-apa ko niss, kita kan sudah kaya saudara" sambil merapihkan jilbabku, aku bersiap untuk keluar membeli tinta printer yang memang sudah habis. "Aku tinggal sebentar ya niss, istirahatlah dikamar niss pintunya ga aku kunci ko" sambil berjalan menuju pintu "iya han, maaf merepotkan dan terimakasih banyak ya hana". Lalu aku pergi meninggalkan annisa sendirian dirumahku untuk beristirahat.

Setelah selesai membeli tinta printer di counter depan perumahanku, aku menjalankan mobilku menuju kerumah annisa sebelum aku pulang. Mencoba mencaritahu kesalahpahaman yang terjadi antara annisa dan bang rudolf. Agak jengah aku hari ini, sedari tadi saat aku berjalan dipertokoan saat hendak membeli tinta ditoko langgananku hampir setiap mata lelaki menatap tajam padaku. Tatapan yang mengerikan, tatapan zina mata laki-laki. Sialnya lagi toko biasa sempatku membeli tinta tutup jadi aku harus berjalan agak jauh untuk menuju ketoko selanjutnya. Aku tidak pernah belanja disini, karna segilitiran orang bilang bahwa arang disini agak mahal dan penjualnya kurang sopan dalam melayani pembeli. Namun karena aku memnag butuh tinta itu hari ini maka mau tidak mau aku pergi ketoko tersebut. Sampai didalam toko, benar saja yang dikatakan orang-orang penjaga toko itu menatapku tajam dari ujung kaki keujung kepala seolah sedang menikmati sebuah mamndangan indah. Apa aku sebegitu indah, apa benar kata mas Bram bahwa aku memang cantik. Tapi kenapa baru sekarang tatapan-tatapan ini tertuju padaku. Tatapan tajam yang menyiratkan kekaguman juga nafsu, padahal aku memakai pakaian tertutup yang sangat menjaga auratku. Tapi mengapa mereka seolah-olah melihatku dengan tanpa sehelai benang pun. Haruskah aku bahagia atas kekaguman mereka atau malah seharusnya aku khawatir. �mau cari apa mbaknya?� belum habis pikiranku melayang si penjaga toko memecahkan lamunanku dengan pertanyaanya yang membuatku jadi bingung �anu mau cari anu mas yang hitam.� Lalu dia menjawab dengan tampang kaget dan senyum yang aneh �anu yang hitam? Punya saya ga hitam-hitam banget mbak. Tapi besar ko. Hehe� jawaban yang sangat merendahkanku �astagfirullah hana, kenapa aku bisa tidak fokus seperti ini setelah ditatap oleh banyak lelaki.� Umpatku dalam hati �mbakk, beneran jadi mau anu saya??hehe coba dulu aja kali mbaknya suka.� Tampang menjijikan itu menyeringai didepanku. �maaf, tolong masnya yang sopan ya. Maaf saya hanya kurang fokus yang saya maksud tinta printer warna hitam!� jawabanku agak keras kepdanya berharap dia berhenti menggodaku �on tinta printer warna hitam, ya mbaknya bilangnya anu, saya pikir anu yang itu yang tintanya warna putih.hehe� jawabnya ringan, �astagfirullah, saya ga ngerti ya maksudnya mas. Tolong saya Cuma butuh tinta hitam sekarang saya buru-buru, berapa harganya?� lalu tiba-tiba dia meraih tanganku sambil berkata �ah mbaknya pura-pura gatau sama anu itu. Jangan gitu ah nanti jadi suka dan ketagihan lho sama si anu itu.� Wajahku terasa panas dan memerah pasti dan bukan segera menarik lepas tanganku dari genggamannya aku malah seolah terpaku tatapan tajamnya dan genggaman juga belayan lembut jarinya, seperti ada aliran yang mengalir di saraf sensorik ku menuju otakku sehingga aku tak mau melepaskan pegangannya. �sekali lagi tolong saya hanya butuh tinta hitam sekarang!� lalu dia melepas genggamannya dan mengambil tinta yang ku maksud dan memberikannya padaku �ini toh anu yang mbak cari. Yang hitam. Geratis saja buat mbaknya sebagai ganti sudah boleh pegang tangan mbaknya tadi.hehe�. �jangan kurang ajar ya mas, saya sudah sabar dari tadi. Saya bukan wanita bayaran seperti yang mas fikir. Maaf saya masih mampu bayar tinta ini!� seraya meletakan uang seratus ribu di etalase tokonya dan berbalik menuju pintu keluar. Belum sempat melangkah keluar �haha mbaknya munafik tadi diusap-usap tangannya diem aja. Saya ga butuh uangnya mbak, saya bakal kasih gratis semua tinta yang mbak minta asal mbak beli ditempat saya. Dan saya yakin mbaknya pasti balik lagi kesini kalo nganunya suda habis. Hehe saya tunggu mbak.� Setengah berteriak sambil meleparkangumpalan uang seratus ribu yang tadi aku letakan. Aku terus berjaan tak menggubris perkataanya, walaupun perkataan tersebut terus terngiang difikiranku sepanjang jalanku menuju mobil, juga tatapan tatapan nakal itu masih menyertai perjalananku menuju mobil. Dialam mobil aku masih tak habis pikir mengapa para lelaki tak henti-hentinya menatap setiap liuk tubuhku. Mengapa harus aku, pakaianku tertutup rapi tak sedikitpun menunjukkan sisi erotis namun mengapan tatapan itu seolah membiusku, menyampaikan pesan bahwa aku adalah wanita paling sexy Juga mengapa penjual itu bisa berkata seperti itu, mengapa dia bisa sebegitu yakin bahwa aku akan kembali ke tokonya untuk membeli tinta, atau dengan kata lain kembali ketokonya untuk dilecehkan. Mengapa aku tak bisa berhenti memikirkan hal itu, dan setiap aku memikirkanya jantungku berdebar, terasa panas sekujur tubuhku, �apa yang terjadi padaku? Ada apa denganku? Istigfar hana, istigfarr..�seraya menghembuskan nafas dan menyalakan mesin mobilku menuju kembali keperumahanku.Dalam perjalanan pulang aku tetap tidak bisa fokus dalam berfikir, pikiranku masih saja melayang-layang. Fikiran yang entah datang berasal dari mana. fikiran yang membuatku menjadi resah, fikiran tentang tatapan itu, fikiran tetang pandangan orang terhadapku, apa yang mereka fikirkan sehingga menatapku begitu tajam. Apa sebegitu menariknya aku sehingga mereka sungguh menikmati pemndangan yang ada pada diriku. Tanpa kusadari tubuhku jadi terasas begitu gerah, bahkan pendingin dalam mobilku ini bagai tak terasa. Butir-butir keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Ada apa denganku, perasaan ini sungguh aneh. Aku seorang perempuan muslimah yang baru saja dilecehkan secara lahir oleh orang yang tidak ku kenal, kini malah tidak bisa berhenti memikirkan pelecehan tersebut. 

“aahhhhh.......” tanpa disengaja aku melekingkan desahan sambil menghembuskan nafas.
Tapi mengapa aku mendesah, mengapa rasanya seperti aku sedang dalam gairah yang tinggi. Mengapa rasanya begitu gerah, begitu resah, begitu “aaaaaahhh....” lagi-lagi aku mendesah. Desah yang keluar kali ini rasanya beda sekali, terasa begitu melegakan setelah aku melakukannya. Begitu lepas, begitu bebas, begitu nikmat.

“astagfirullah, istigfar hana istigfarr..” aku yang tak ingin terbuai dalam perasaan aneh ini, mencoba menenangkan diri. Tanpa sadar ternyata bukan hanya kerudungku yang basah karena gerah yang mendera, Tapi pangkal pahaku juga terasa basah. Seperti ada setetes air mengalir disitu, Tepat disitu. Rasanya geli sekali, apa aku benar-benar dalam keadaan syahwat saat ini.

“aahhhh...,,astagfirullah...” aku mendesah lagi saat hendak memeriksa pangkal paha ku dan menyentuh bagian luar dari vaginaku. Aku mencoba untuk tetap sadar dalam mengedarakan mobilku dibawah pengaruh perasaan aneh ini. Walaupun jalanan komplek sedang sepi-sepinya jam segini dan aku mengedarai mobilku dengan pelan tapi jika aku terus tenggelam dalam perasaan aneh ini tetap hasilnya tidak akan baik bagiku.
Tapi apa ini, tanganku seolah tidak ingin beranjak dari pangkal pahaku. Jariku seolah tidak ingin berhenti untuk mengecek keadaan organ dibalik celanaku. Kenapa rasanya begitu gatal, kenapa rasanya begitu lega saat jariku menggaruk coba untuk menhilangkan gatalnya. Kenapa rasanya malah semakin basah, semakin gelii, semakin..

“aahhhh,,, mas brammm....” aku melenguh panjang dalam lamunanku, aku terpejam sesaat. Dan saat membuka mata hampir saja aku menabrak salah satu tongsampah dipinggir taman ini.
“astagfirullah!” dengan cekatan aku langsung menginjak pedal rem tanpa menginjak pedal kopling yang menyebabkan, mesin mobilku mati dalam sekejap. “ya allah, astagfirullah alazim. Mengapa hamba begini ya Tuhan. Ampuni hambamu yang lalai ini.”

Seraya mengucap ampun atas tindakkan yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku baru saja hampir menuai puncak syahwatku dengan tanganku sendiri. Hanya dengan memainkan jariku saja aku bisa seperti ini, ditambah lagi dengan fikiran-fikiran tetntang pelecehan yang baru saja aku alami. Mengapa aku jadi seperti ini. Apa yang terjadi padaku, apa aku salah memakan sesuatu atau aku sedang dalam pengaruh sesuatu yang tidak aku mengerti.

“huft, istigfar hana. Istigfarr..” aku masih diam sejenak di pinggir jalan dekat taman komplek. Mencoba menenangkan fikiranku dan juga terus mencari tahu apa penyebab semuanya karna rasanya terlalu janggal. Biasanya dalam keadaan masa suburku, kondisi syahwatku tidak pernah seperti ini. Ini tidak seperti biasanya, bahkan ini bukanlah masa suburku saat aku lihat tanggal hari ini dalam HP ku. Tapi mengapa aku bisa setinggi ini.

“yaampun, mas braamm..” aku baru ingat sesuatu, dari bula yang lalu mas bram selalu membicarakan untuk memberikan adik untuk anakku rosi. Aku selalu cuek saat itu karna sibuk mengurusi blog juga masalahku. Beberapa hari belakangan mas bram memberikanku ramuan jamu dalam bentuk kapsul, untuk kesuburan katanya. Mas bram bilang aku harus meminumnya setiap sebelum tidur, hanya aku selalu lupa untuk meminumnya dikarenakan kelelahan dan mengantuk. Tadi pagi karena aku fikir aku hanya akan bersantai dirumah, aku coba untuk meminumnya. Apa ini reaksi dari ramuan kesuburan itu.

“pantas saja kamu mas setiap malam sebelum tidur coba menyentuhku.” Aku bergumam dalam senyumku. Iya hampir setiap malam belakangan ini mas bram selalu mencoba untuk merayuku, namun keadaanku yang begitu lelah karena lama berkutat dengan layar komputer mebuat aku menjadi mengantuk. Bahkan tadi pagi mas bram masih coba untuk menggodaku, tapi aku tetap saja dingin, mungkin dia terheran-heran mengapa tidak ada reaksi sedikitpun dari aku. Jelas saja, aku selalu lupa meminumnya.

“nakal kamu mas, kenapa ga bilang saja langsung. pasti kamu jadi bingun sendirikan. Sabar ya ayah, bunda akan kasih adik buat rosi. Seorang anak laki-laki untuk ayah, hihi” ucapku sambil teseyum juga mengusapkan tanganku keperutku. Seolah-olah aku sedang berbicara langsung pada mas bram.

Setelah merasa cukup tenang, aku nyalakan lagi mesin mobilku kembali menyusuri jalan menuju rumah annisa. Rumah annisa memang berada satu komplek denganku, hanya berbeda beberapa blok saja. Melihat annisa mendatangi rumahku pagi tadi dalam keadaan begitu sedih membuatku turut merasakan kesedihannya. Ada masalah apa antara annisa juga bang rudolf, walaupun aku tau bang rudolf memang memiliki watak yang keras tapi menurutku bang rudolf bukanlah orang yang akan kasar sembarangan, apa lagi terhadap istrinya sendiri annisa. Aku yakin ini pasti hanya salah faham antara bang rudolf juga annisa.

Sesampainya dirumah annisa aku tidak langsung turun, aku coba merapihkan tampilanku menambhakan sedikit sentuhan make up yang tadi sempat luntur karena keringatku. Setelah merapihkan dandanan diwajahku, aku tak lupa turut merapihkan pakaianku, mulai dari jilbabku, hingga celanaku. Aku baru sadar bahwa basahan di pangkal pahaku belum juga kering, terlihat cetakan basah tepat di bagian depan celanaku. rasanya malu sekali, belum pernah aku sebasah ini. Memang syahwatku belum juga tuntas, aku masih merasa dalam gairah yang tinggi. Namun setidaknya aku sudah tahu apa penyebabku hingga jadi seperti ini, juga aku sudah mulai bisa mengedalikan fikiranku. Aku sudah mulai kembali mempunyai kontrol atas diriku.

Tapi bagaimana dengan noktah basah dicelanaku ini. Bagaimana jika nanti bang rudolf melihatnya. Aku memang mengenakan gamis, tapi ternyata noktah itu pun rembes tembus hingga gamisku. 

“aaaiihhhh....,” aku coba menyentuh pangkal pahaku lagi. Basah sekali, masih saja terasa mengalir dari dalam, masih saja terasa geli, seolah sesitifitas dari saraf-saraf unjung yang berada di oragn intimku bertambah beberapa kali lipat. Apa aku batalkan saja rencanaku untuk mampir menemui bang rudolf, tapi aku sudah terlanjur sampai disini. Aku terus berfikir cara untuk menutupi kebasahanku ini. Lalu aku melihat tasku yang memiliki tali yang panjang, mungkin dengan menambah panjangnya tali tasku dan meletakkannya didepan pangkal paha ku dapat membantu untuk menutupi bagian yang basah ini. Lalu segera aku turun dari mobilku, bergegas masuk kedalam pekarangan rumah annisa.

Sesampainya di depan pintu rumahnya terlihat sepi pintu tertutup rapat, begitu juga dengan jendela depan masih tetap tertutup seolah tidak ada penghuninya atau penghuninya belum bangun. Lalu aku coba ketuk pintu sambil mengucapkan salam "assalamualaikum, bang rudolf" tidak ada jawaban saat ku coba untuk mengetuk pintu lagi sambil menekan gagang pintu, pintu rumah pun terbuka dengan mudahnya.

"Pintunya tidak dikunci, berarti bang rudolf masih didalam" gumamku dalam hati. Karena biasanya bang rudolf pergi bekerja pada jam begini, karena memang bang rudolf satu kantor dengan mas bram. Dengan ragu-ragu aku masuk kedalam, "assalamualaikum, bang rudolf. Ini hana bang." diruang tamu aku tak menemui siapa-siapa lalu aku coba masuk ke ruang keluarga. Ternyata bang rudolf sedang tertidur tepat didepan tv pulas sekali sehingga dia tidak mendengar suaraku masuk tadi, bahkan dia lupa menutup pintu belakang rumahnya maka aku berniat menutup pintu belakangnya, takut-takut suami sahabatku ini masuk angin.

Setelah menutup pintu dan menuju ke arah pintu depan, saat melewati bang rudolf aku melihat ada sepucuk surah yang tergeletak dihadapan bang rudolf yang sedang tertidur. Karna penasaran aku jadi ingin membaca surat tersebut. Dengan hati-hati aku dekatkan diri untuk meraih surat tersebut. Surat ini untuk annisa, surat ini beriisikan permohonan maaf bang rudolf karna telah berbuat kasar dan membuat annisa takut. Walaupun seharusnya aku tidak boleh membaca surat yang bukan ditujukan kepadaku. Tapi surat ini tergelatak tanpa amplop, jadi mungkintidak apa-apa jika aku baca sedikit untuk memahami duduk permasalahan sebenarnya. 

Aku tersenyum membacanya, ternyata sesungguhnya masalah ini benar-benar hanya kesalah pahaman semata. Setelah cukup membacanya aku meletakkan surat seperti semula dan beranjak untuk bangun, sudut mataku tak sengaja menangkap pemandangan yang seharusnya tidak aku lihat, ada sesuatu yang mengganjal tepat dipangkal selangkangan bang rudolf.

"Astagfirullah, besar sekali. Kenapa Anu itu bisa bangun, apa bang rudolf sedang bermimpi?" Pertanyaanku dalam hati, wajah dan tubuhku mendadak merasa gerah dan panas, seharusnya aku tidak berlama-lama memandangi sesuatu dibalik celana bang rudolf, ini tidak baik. Selain karna aku bukan muhrimnya bang rudolf, juga bang rudolf adalah suami dari sahabatku, tapi ini tidak baik karena aku masih dalam pengaruh obat kesuburan itu. Aku masih dalam keadaan birahi yang tinggi. Ini benar-benar tidak baik.

"Astagfirullah, tapi kenapa bisa besar seperti itu Anunya ya." aku cepat-cepat membuang fikiran yang membuat wajahku memerah ini. Rasa penasaran yang aku miliki mebuat aku tidak bisa berhenti melirik kearah selakangan suami dari sahababatku ini. Aku sungguh merinding memandangnya. walaupun hanya terlihat disudut mata, karena aku terus coba untuk memalingkan pandanganku namun tetap saja benda itu menarik perhatianku dan tetap terlihat kokoh. Aku harus segera beranjak dari sini, keadaanku yang sedang dipenuhi dengan syahwat saat ini bisa membuatku tenggelam lebih dalam. Saat mencoba untuk bangkit tiba-tiba tangan bang rudolf yang sedang tertidur meraih tanganku, menggegamnya dengan erat sambil mengigau.

"niss, maafin abang niss. Abang ga maksud kasarin kamu. Abang cuma ga suka kalau kamu tuduh-tuduh abang niss. Abang ga selingkuhin nisa, abang kangen nis sama nisa. Jangan tinggalin abang niss." belum sempat aku berkata-kata untuk membangunkan bang rudolf, tangannya sudah menarikku jatuh kedalam pelukkannya. Tubuhku mendadak kaku, lidahku kelu, saat aku dipeluk dari belakang. aku tak mampu bergerak dan berkata-kata, sementara bang rudolf terus mengigau "niss abang kangen sama nisa, sudah lama abang ga nisa puasin kaya dulu nis. Abang kangen nisa yang dulu nis, nisa yang nakal sama abang."

Aku merinding mendengar kata-kata bang rudolf ditelinga ku, sambil berbisik bang rudolf juga tak berhenti meraba tubuhku, dan menciumi tengkukku yang masih tertutup jilbab. 

"Nisa, emangg nisa ga kangen sama abang, sama kebiasaan kita bercinta nis? Abang pengen ini dan ini nis." bang rudolf terus mengigaukan annisa sambil terus meraba tubuhku yang masih tertutup gamisku. bahkan tangan kanannya kini berada tepat didaerah kewanitaanku yang memang sedari tadi sudah basah, dan tangan kirinya berada tepat didadaku, sementara bibirnya tak pernah berhenti menciumi tengkukku. Aku sempat terhanyut sebentar dalam keadaan ini. Sentuhan lelaki yang bukan siamiku justru menimbulkan sensasi yang lain. Seolah aku menikmatinya, aku malah memejamkan mataku. Terbuai oleh rangsangan tangan besar dan berotot milik bang rudolf.

“hashhhh..ahhhh..” aku langsung menutup mulutku dengan salah satu tanganku. Hampir saja aku membangunkan bang rudolf dengan suaraku. Entah mengapa aku tidak ingin bang rudolf terjaga saat ini. Aku sedang dalam buaian kenikmatan terlarang, dan sebagian dari diriku tak ingin ini cepet berhenti. Ini pasti masih bagian dari pengaruh obat kesuburan itu. Juga ini imbas dari tidak tuntasnya syahwatku dimobil tadi. Tapi apa aku harus terus diam saja dan menikmati apa-apa saja yang dilakukan suami annisa. Atau aku malah harus membangukan bang rudolf saat ini juga. Apa baiknya ditundak sebentar lagi saja, sampai aku merasa tuntas.

“aahhh.....ini nikmat Tuhann.. maafkan hambamu yang terbuai kini.” Ini yang terdengar dari dalam hatiku. Kata-kata ini yang ingin aku ucapkan. Tapi bagian lain dari diriku justru berkata lain. Ia menyeruak dari dalam coba untuk berontak dan menyadarkanku dari situasi ini. “istigfasr hannaa,, kamu perempuan bersuami. Dia adalah suami dari sahabatmu yang sedang menangis dirumahmu saat ini. Apa ini yang kamu lakukan untuk membantunya hana?.” Salah satu suara yang terdengar dibenakku, “tapi ini sungguh nikmat untuk dilewatkan, bukankah ini juga bukan salahku. Aaahh,, jangan salahkan aku Tuhan aku hanya perempuan yang Engkau ciotakan dengan nafsuu.. aaaiishh..” masih dengan argumentnya suara yang lain ini terus membisikan kata-kata sambil menikmati sentuhan tangan bang rudolf yang makin berani meremas lebih keras. 

Dalam buaian yang begitu intens aku sungguh tak bisa berbuat apa-apa. Melawan dan berontak pun rasanya aku enggan, namun untuk tulus menikmati keadaan ini aku merasa jengah dan salah. Ini sungguh tidak baik, aku harus melawan dan bangkit atau setidaknya membangunkan bang rudolf agar dia sadar bahwa aku ini bukan istrinya. Tapi entah kenapa badanku terasa tak mampu bergerak atau tak mau digerakkan, kenapa badanku justru merasa nyaman dalam situasi seperti ini. Ini tidak boleh seperti ini, "bang rudolf, bang bangun bang" aku coba menyadarkan bang rudolf dari mimpinya. 

Sambil coba memaksakan diriku untuk berontak "bang saya hana bang bukan annisa" setelah mendapat tumpuan untuk berbalik dan bangun, tiba-tiba tangan bang rudolf memelukku lebih erat, membuat wajahku dan wajahnya jadi semakin berdekatan berhadapan. Mimpi apa bang rudolf ini sehingga bisa berlaku seperti ini. Deru nafas bang rudolf tepat terhirup olehku, jarak aku dan dia tak lebih dari 5cm. 

"Bang, sadar bang saya hana!" Suaraku agak meninggi, "bang saya....hmmf." belum selesai perkataanku, bibirku sudah dilumat oleh bibirnya. 

"Astagfirullahalazim, bang rudolf menciumku, dia mencium sahabat istrinya dan aku tetap tidak bisa berontak karena pelukkannya yngg erat ini" bang rudolf terus menciumiku dengan ganas, "niss aku kangen sama bibir kamu yang nakal ini, yang pandai berciuman ini" setelah berkata itu ia langsung memagut bibirku lagi tanpa sempat memberiku ruang untuk berbicara. 

Sementara itu tangan kanan dan tangan kirinya terus bergriliya ditubuhku, meraba-raba daerah-daerah sensitif yang membuatku mulai lepas kendali. Dalam keadaan seperti ini tubuh dan otakku lagi-lagi tidak selaras, disisi lain otakku menolak menerima perlakuan seperti ini, ini melewati batas kenormaan yang aku yakini, ini salah, ini dosa. Tapi disisi lain aku tak dapat menggerakkan tubuhku, tubuhku merasa nyaman, bahkan tubuhku bereaksi atas setiap yang dilakukan oleh bang rudolf. Ya Tuhan apa yang terjadi denganku, bahkan sekarang aku malah menikmati setiap setuhan tangan bang rudolf pada tubuhku, dan mulai merespon ciuman-ciumannya. Aku lagi-lagi diluar kendaliku sekarang, aku sudah terbawa dalam jerat setan. 

“ya Tuhan, ini terlalu nikmat, aku sudah lama tak merasakan ini bersama mas bram.” Ya memang aku jadi terlalu sibuk belakangan ini. tapi dia bukan mas bram suamiku, dia bang rudolf. "Nisaku, istriku, aku ingin menikmatimu seutuhnya saat ini." bang rudolf berkata seperti itu sambil membalikkan badanku menurunkan ciumannya keleherku yang masih tertutup jilbab. anehnya setelah lepas dari pagutannya aku tidak berteriak untuk membangunkannya, tanpa sengaja aku malah mendesah menerima perlakuannya "hmmf..,, bangg..sshhs." 
aku tidak bisa menolak gairah ini, aku tenggelam Tuhan, ini aneh sekali "hmmff,, bang ruu,,dolff....ahhhh" saat kedua tangannya memainkan daerah kewanitaanku dengan kasar dari luar pakaian muslimku, sedangkan bibirnya terus menciumi tengkuk dan punggungku yang tertutup jilbab dan gamisku. bahkan benda keras dan besar yang tegang dibalik celananya berada tepat terjepit diantara pangkal selangkanganku.

Ransangan tangan bang rudolf di kewanitaanku dan gesekan benda tegang besar dibawah selangkanganku membuat tubuhku menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tak pernah aku rasakan. Bukan karna mas bram tidak pernah melakukannya melainkan karna terkadang aku tidak suka melakukan pemanasan atau foreplay terlebih dulu, mungkin karena norma agama yang aku yakini tidak mengajarkan foreplay sebagai kewajiban dalam hubungan suami istri. Tapi kali ini aku hanyut hanya dengan rangsangan tangan dari suami sahabatku. "Hmmff, abaang... ruuu...." 

Saat aku terhanyut dalam desahanku, tanpa kusadari tangan bang rudolf sudah berhasil mengangkat setengah pakaianku dan masuk kedalam celanaku untuk menyentuh langsung kewanitaanku, aku terpekik kaget saat tangan dingin itu melewati bulu-bulu kemaluanku dan menyetuh langsung kewanitaanku.
"aaahh... Abaaang rudooulf..., jangan baang.." Kewanitaanku yang memang sudah basah sedari tadi, basah sekali. Karna ketidaktuntasan syahwatku ditambah rangsangan yang tak henti-henti dilakukan oleh bang Rudolf dalam tetap terlelap dalam mimpi. Namun meski begitu bang rudolf mampu mengintimidasi aku dalam kenikmatan yang seharusnya tidak boleh kurasakan. 

"Uuuhh... Abaangg..." dia mencoba menusukkan satu jarinya kedalam kewanitaanku "aahhh, jari itu besar, besar baang..jangann,, aiihhh... masukk bangg,, udahhh" Dalam pengaruh kenikmatan ini aku tak tahu harus berbuat apa. 

"Hmmmf... Abaang, ini... Aahhhh" jarinya menekan jauh lebih dalam, nikmat sekali. Setelah 15 menit berada dalam balada nikmat ini tiba-tiba Hpku berbunyi, bunyi Hpku membuat kesadaranku kembali, kekuatanku kembali, selain itu suara Hpku membangunkan bang rudolf dari mimpinya. Saat kami sama-sama tersadar, bang rudolf langsung melepaskan pelukkannya terhadapku. Aku pun langsung bangkit duduk dan merapikan pakaianku yang tadi berantakan akibat perlakuan bang rudolf tadi. Beberapa menit kami terdiam, duduk bersampingan tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut kami masing-masing.

Hp yang berdering tak lagi kuhiraukan, hanya kebisuan yang menhiasi ruang keluarga sahabatku ini. Hening, hening sekali, rasanya ingin mati saja. Malu, malu sekali, wajahku mungkin sekarang semerah tomat. Tapi bang rudolf pasti tidak menyadari kalau aku tadi turut menikmati kenistaan ini. Ya aku menikmatinya, yaampun aku sungguh menikmatinya..

"Han maafin saya, saya sedang memimpikan annisa han. Dan saya gatau kalau ternyata aku mengigau sampai segitunya. Aku juga gatau kalau kamu ada dirumah ini han. Maafkan saya han" lalu kami terdiam lagi, aku masih belum bisa berkata apapun, aku masih hanyut dalam diamku. Aku tak tahu harus berkata apa wajahku masih merah padam, tenggelam dalam rasa malu yang tak terkira. Rasa malu karena aku sudah terbawa dalam dekapan suami sahabatku, terhanyut dalam hawa nafsu yang sampai sekarang masih menggelayutiku. Dalam keheningan ini bang rudolf memecahkan kebisuan ini lagi dengan bertanya "memang apa yang kamu lakukan disni han?" Iya bertanya namun matanya tetap tertunduk tak berani memandangku.

"Aku,, aku hanya ingin bilang , kalau annisa ada dirumahku sekarang ini" terbata-bata aku menjawab pertanyaan bang rudolf, sambil sudut mataku tak pernah lepas memandang pada pangkal selangkangan bang rudolf. Benda itu masih tegak berdiri meski kita sudah berhenti dan merasakan malu. 

"Astagfirullah, benda itu sama sekali tidak melemas. Benda itu masih tegak berdiri. Besar dan keras" aku bergumam dalam hati. 
Mataku benar-benar tak bisa lepas memandangnya, aku sungguh mengaguminya, ya Tuhan mengapa aku jadi seperti ini. Aku memaksa diriku untuk bangkit dan pergi menghindari masalah ini lebih jauh. Aku bangkit dari dudukku, "hanya itu yang mau saya sampaikan bang". saat hendak melangkah tangan bang rudolf meraih tanganku "han maafin saya han. Saya benar-benar tidak sengaja han. Saya diluar kendali saya, saya terbawa mimpi han" begitu pembelaannya.

aku terdiam, aku sungguh faham bahwa ini memang tidak disengaja. Tapi kejadian ini malah semakin membangkitkan gairahku sekarang ini. Apalagi tonjolan dibalik celananya itu membuatku tak dapat berfikir dengan jernih. Aku harus keluar, sesegera mungkin. "Saya harap yang terjadi barusan menjadi rahasia kita bang. Dan mari kita lupakan" dengan berat hati aku berkata seperti itu. Entah kenapa bagian diriku yang lain berharap bahwa bang rudolf akan menarikku dan memaksaku untuk menikmati gairah ini bersamanya. 

"Tapi han, kamu harus maafin saya dulu han. Saya ga mau hubungan kita renggang karna ini" dia terus meminta maaf tanpa melepaskan genggaman tangannya di tanganku yg gemetaran. Saat dia mencoba untuk bangun entah mengapa aku kehilangan keseimbanganku dan membuat aku tersungkur jatuh menimpah bang rudolf. Wajahku tepat berada didatas tonjolan dibalik celananya itu bahkan saat tersungkur tadi aku sempat tak sengaja menciumnya. Tangan kanan bang rudolf yang tadi memegangi tangan kiriku, kini berada dipayudara kiriku, mungkin niatnya ingin menahan jatuhnya tubuhku. Cukup lama kami dalam posisi itu, cukup lama aku memandangin benda keras dan besar itu, menhirup bau khasnya yang menelusuk kedalam sukmaku. Gairahku yang memang belum reda, kembali meninggi dan jadi semakin tinggi. Bahkan aku merasa bahwa bang rudolf sedang meremas payudaraku. Dengan sadar bang rudolf membangunkanku dari pangkuannya. 

"Han kamu ga apa-apa?" Sambil mebangunkanku tangannya tetap menopang tubuhku dengan cara memegang payudara kiriku "hmmmfff..." Aku terpekik, karena Tangan bang rudolf menekan payudaraku saat memabangunkanku. Membuat tubuhku menjadi lemas lagi, dan justru jatuh dalam pelukannya sekarang, kami duduk berpangkuan disofa. Dengan wajah berhadapan, aku tepat duduk diatas tubuhnya. kewanitaanku menempel erat dengan benda yang besar dan keras dibalik celananya, tangan bang rudolf berada dipunggungku memeluk. 

Entah siapa yang memulai, tapi kami sudah mulai berpagutan. Tangan bang rudolf berpindah dari punggungku ke payudaraku dan meremasnya. Tangannya yang satu lagi beralih ke bokongku dan juga meremasnya. Aku terbawa, aku menikmati ini dan bahkan aku malah menggesekkan kewanitaanku diatas benda besar yeng keras itu, iya aku menggesekan kewanitaanku maju mundur dengan kelaminnya. "Hmmff.. Abangg.,, ru..dolf" dia terus memagut bibirku dengan kasar, sampai-samapi jilbabku berantakan. "Hana, kamu cantik sekali hann, slurrp" bang rudolf memujiku sambil terus menghisap bibirku. 

"Hmmff, abaang..." Saat kami benar-benar tenggelam dalam nafsu setan kami. Hpku lagi-lagi berdering menyadarkan kami yang sedang berpagutan kali ini aku benar-benar sadar. Lalu aku bangkit dan merapihkan pakaian dan jilbabku. Sementara bang rudolf hanya terbengong melihat kesadaranku yang telah kembali.

Dalam keadaan masih bergairah aku mencoba berfikir sejernih mungkin lalu melihat Hpku, ternyata itu mas bram. Lalu aku jawab telponku "assalamualaikum ayah, ada apa maaf lama mengangkat telfonnya tidak terdengar tadi" mas bram pun menjawab "walaikumsalam bunda, bunda tidak apa-apa kan? Kenapa telpon ayah yang sebelumnya tidak diangkat?"

 Anissa

(Beberapa jam sebelumnya)

Pagi ini terasa lain dari biasanya. Aku terjaga delum pelukkan bang rudolf setelah sekian lama berpisah dikarenakan bang rudolf mendapatkan tugas untuk keluar kota beberapa waktu kemarin. Ya walaupun rumah tidak terasa terlalu sepi karena ada dante yang menemani setiap harinya, juga kegiatan yang memang aku lakukan setiap hari mampu menyita pikiran ku dari rasa sepi. Tapi urusan ranjang tetap keberadaan bang rudolf sangatlah berarti. Dengan kesibukkan bang rudolf belakangan ini yang banyak menyita waktu untuk kebersamaan kami, rutinitas kami. Rutinitas yang bisa dibilang sebagai kewajiban atau mungkin kebutuhan bilogis.

Namaku annisa seorang istri dari seorang suami bernama rudolf aku biasa memanggilnya bang rudolf, yang juga ibu dari anak semata wayang kami Dante. Aku menikah dengan bang rudolf beberapa tahun lalu dengan landasan cinta tentunya. Bisa dibilang aku menikah muda, karena memang aku memiliki impian untuk menjadi ibu muda. Maksudku sehingga jika nanti anak-anak ku dewasa, jarak umur antara aku dan anak-anakku tidak akan terpaut terlalu jauh. Agar nantinya akan lebih mudah memahami keinginan dari anak-anakku.

Aku tersenyum saat membuka mata kulihat bang rudlf sudah ada dihadapanku. Tubuhku berada dalam pelukkannya, rasanya begitu menyennagkan. Aku memang tidak tahu bahwa hari ini atau malam tadi bang rudolf akan pulang, bang rudolf tidak mengabariku kapan dia akan pulang. Mungkin suamiku ingin memberikan kejutan padaku. Seperti pagi ini, aku sungguh terkejut dengan keberadaannya diatas ranjang kami. Rasanya lama sekali sejak terakhir kali tidur seranjang berdua. Mungkin aku agak berlebihan sih, karena memang tidak lebih dari satu bulan bang rudolf tuhas keluar kota. Namun ya rasa rindu seorang istri terhadap suaminya yang membuat waktu terasa begitu lambat berputar.

Setelah mencium kening suamiku, Lalu aku beranjak untuk bangun. Seperti biasa bang rudolf tidur tidak mengenakan baju, hanya celana boxer saja tanpa celana dalam. Malah terkadang suamiku ini suka sekali tidur dalam keadaan telanjang. Selain kareana alasan kesehatan, juga agar gampang bila ingin merasakan juga menyampaikan rasa cintanya padaku, Begitu katanya. Awalnya memang aku tidak terbiasa, namun lama-lama aku juga menikmatinya. Karena memang semua alasannya masuk akal, dan berkat kebiasaanya itu pula ditahun pertama kami aku sudah langsung mengandung anak pertama kami. Aku memang dilahirkan dari keluarga yang berlatar belakang kenormaan yang kuat atau bisa dibilang kolot juga kaku. Sehingga hal-hal yang berbau anonoh akan terasa tabu dilingkungan keluarga kami. Namun setelah menikah dengan bang rudolf, dia seperti membuka kunci dari sebuah pintu yang selama ini tertutup.

Bersama bang rudolf aku mendapatkan banyak pelajaran baru yang sebelumnya belum pernah aku alami. Tentunya dalam urusan berhubungan, dari pacaran hingga urusan ranjang. Dan aku pun tidak masalah akan itu toh semuanya kulakukan dengan dia yang notabene adalah pacarku yang sekarang juga sudah menjadi suamiku. Bang rudolf adalah pacar petamaku. Bang rudolf jugalah yang mengajariku tentang cinta. Dia juga yang mengajariku nikmatnya meraup keindahan cinta. Setelah menikah tentunya. Sebelum menikah dia hanya mengajariku berciuman tidak lebih. Karena memang menurutku bukan hal yang pantas melakukan hal yang lebih dari itu bila belum ada ikatan pernikahan. Sampai akhirnya bang rudolf juga yang menikahiku, mengajariku tentang banyak hal,memberiku kenikmatan lahiriah sebagai seorang istri. Aku sebagai seorang istri yang baik tentunya tak ingin membuat suamiku kecewa, maka setiap pelajaran yang dia ajarkan selalu aku ingat dan peraktekan dengan benar. Kerna memanglah tugas seorang istri untuk melayani suami.

Saat beranjak dari tempat tidurku, aku terlebuh dulu menuju toalet. Sedikit merapihkan tampilanku yang masih berantakan sehabis bangun tidur. Sambil bercermin aku merapikan rambutku, juga mebubuhkan sedikit bedak dan lipstick pada wajahku. Memang aku belumlah mandi tapi entah mengapa pagi ini aku ingin tampil cantik untuk suamiku tercinta. Sehingga walaupun aku belum mandi aku tetap terlihat menarik dihadapan suamiku. Pda hari-hari biasa aku selalu menyempatkan untuk mandi terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan, setelah mandi barulah berdandan. Tapi pagi ini berbeda entah karena rasa rinduku yang memnag sudah menggunung sehingga aku ingin langsung tampil cantik saat bang rudolf buka mata nati. Karena aku takutnya apa bila aku mandi terlebih dahulu bang rudolf malah sudah bangun dan keluar kamar lebih dulu dari aku.

Dan memang bang rudolf memiliki sebuah kelainan atau bisa dibilang bukan sebuah kelainan hanya kebiasaan buruk atau apalah. Bang rudolf suka sekali mencium ketiakku. Katanya dia menyukai aroma aseli dari tubuhku, dan pada ketiakku lah aroma aseli itu bisa dia hirup. Aku tidak mengerti dengan kebiasaanya tapi memang begitu yang dia akui, dia bisa begitu bergairah setelah mencium ketiakku. Bahkan kadang tidak hanya mencium aromanya saja, tapi juga menjilatinya. Kadang memang terasa geli dan aneh di awal tapi lama kelamaan aku juga menikmatinya. Karena memang terasa nikmat, rasa geli yang disebabkan oleh sentuhan dari permukaan lidah yang basah dan juga bertekstur agak kasar sekaligus lembut, menghadirkan sensai yang nyata pada tubuhku. Kadang aku juga ikut terbawa dan jadi ikut bergairah saat bang rudolf melakukannya. Bahkan banyak dari hubunga badan kami diawali dengan kegiatan jilat menjilat ketiak. 

�Maschalagnia� kalo tidak salah sebutan untuk seseorang yang menjadi sangat bergairah apa bila mencium ketiak seseorang. Dan memang ada yang bilang juga jika kita suka terhadap ketiak seeorang dan nyaman pada aromanya, itu adalah salah satu tanda kalau kita berjodoh dengan orang tesebut. Mungkin memang bang rudolf jodohku begitu juga aku adalah jodohnya bang rudolf.

Setelah sedikit berhias di depan cermin di toalet ku. Aku masih berkutat didepan cerminku melihat wajahku, ternyata aku masih terlihat cukup cantik tidak banyak berubah dari waktu sebelum aku mnikah dulu. Hanya saja memang payudaraku manjadi sedikit lebih besar dibandingkan jaman aku kuliah dulu dan aku terlihat lebih dewasa kini. Aku masih memakai baju tidurku, sebuah daster terusan selutut denagn lengan pendek tertutup dan tanpa dalaman. Sama seperti bang rudolf karena memang dia juga yang mengajarkan bahwa tidur memakai pakaian dalam itu tidak baik bagi kesehatan dan memang lebih nyaman tanpa dalaman. Biasanya jika memang bang rudolf ada dirumah, aku selalu mengenakan pakaian tidur dengan bahan lembut seperti bahan saten atau sutra dengan model terusan sama seperti daster hanya beda di bahannya saja. Menurutku dalam balutan seperti itu aku merasa terlihat lebi menggairahkan untuk suamiku. Selain bahanya yang lembut dan nyaman, terkadang baju tidur seperti ini berbahan tipis dan sedikit menerawang. Sedikit menunjukan misteri keindahan tubuh dibalik pemakainya.

Karena ingin memberi kejutan pada bang rudolf, maka aku hendak mengganti dasterku ini dengan pakain tidur yang memang biasa ku pakai tanpa pakaian dalam seperti biasanya. Langsung saja aku menuju lemariku untuk mengambil baju tersebut. Aku memilih warna merah muda untuk ku pakai pagi ini, sekalian menyesuaikan dengan warna bibirku yang juga merah muda hanya dilapisi oleh lipgloss. Saat sedang berganti pakaian, lagi-lagi aku melihat pantulan tubuh ku dicermin. Terlihat sekali dua buah payudaraku yang menggantung agak kendur dan sedikit besar. Dan putingnya yang agak mengacung keras berwarna kecoklatan dengan lingkaran areola yang tidak terlalu besar membuatnya begitu indah menurutku. Aku jadi megangumi payudaraku ini, lalu aku angkat sedikit dengan kedua tanganku dari bawah payudaraku sambil aku perhatikan pantulannya dikaca. Sungguha terlihat lenih indah dari sebelumnya. Aku jadi senyum-senyum sendiri setelah melakukannya, mungkin karena sentuhan tanganku dan juga rasa kagumku sendiri mengakibatkan putingku semakin mengeras sekarang. Beranjak dari payudaraku, aku menunduk untuk melihat kewanitaanku. Agak berbulu dibawah, walaupun aku biasa mencukur dan merapihlan bulunya namun karena hampir satu bulan bang rudolf tidak ada dirumah jadi sebulan lebih ini aku tidak merapihkan rambut kemaluanku. Kadang bang rudolf memang suka membantuku untuk mencukur dan merapihkannya, Kadang aku melakukanya sendiri. Bedanya jika aku merapihkannya sendiri aku suka mencukurnya sampai habis bersih. Lain dengan bang rudolf yang suka menyisakan sedikit tepat diatas labia mayoraku. Bahkan kadang dia membentuk kumpulan rambutku dengan bentuk-bentuk yang dia mau. Kadang segitiga, pernah juga berbentik hati dan banyak lagi bentuk yang suka dia buat dari rambu kewanitaanku ini.

Aku terpaku pada cerminku masih menilisik bentuk kewanitaanku sekarang ini. Masih sama, masih cantik seperti dulu. Begitulah kata bang rudolf saat pertama dia melihat kewanitaanku, dia bilang kewanitaanku terlihat sangat cantik. Lalu aku coba raba kebawah sana, aku masih merasa sangat rapat dibawah sana. Walaupun aku sudah melahirkan satu anak, tapi kerapatan dari kewanitaanku ini masih begitu rapat. Terasa agak basah dibawah ini, mungkin karena memang libidoku yang tadi naik. Aku jadi ingin memainkan jariku lebih lama dibawah sana, tapi sebaiknya jangan aku lakukan. Biarkan saja ini menggantung, mungking bang rudolf ingin membantu untuk menuntaskannya. 

Saat memakai baju merah ini, aku kembali melihat bulu diketiakku. Sudah lama dari terakhir aku mencukurnya memang tidak terlalu lebat cuku terlihat, apa aku harus mencukurnya sekarang. Sepertinya tidak usah, bang rudolf pasti suka dengan aroma ketiakku sekarang ini. Baunya begitu khas dengan ditambah dengan sensasi bulu-bulu halus. Pasti akan sangat menggairahkan suamiku tersayang. Lalu segera aku memakai pakaian merah ini dan berjalan pelan menuju pintu kamarku untuk menuju kedapur memulai rutinitasku menyediakan sarapan.

Saat keluar kamar, aku nelihat barang bawaan bang rudolf yang belum dibereskan. Sebuah koper dan bungkusan-bungkusan kecil dibawahnya. Mungkin bungkusan oleh-oleh pikirku. Tak ku hiraukan keberadaannya saat ini. Aku langsung menuju dapurku untuk menyediakan saraapan. Sesampainya didapur, aku langsung disibukkan denga kegiatan memasakku pagi ini. Fajar baru saja menyingsing, matahari belum terlalu menyoroti jendela dapurku. Aku masih terus berkutat dengan masakkanku.

Tanpa kusadari bang rudolf sudah ada dibelakangku memelukku juga menciumi tengkukku dengan lembutnya. Membuat aku sedikit tersentak kaget.

�astagfirullah, abaaang..! abang bikin nisaa kaget aja deh tana suara langsung eluk nissa.� Ucapku kaget atas perlakuannya.

�abang kangen niss, sama nisaa. Makanya abang langsung peluk aja istri abang tercinta.� Begitu jawabnya tepat dibelakang telingaku. Hembusan nafasnya membuat ku merinding.

�kamu lagi masak apa sayang, abang ga butuh sarapan pagi ini. Abang butuh nissa.� 

Sambil memelukku juga mengerayangi tubuhku. Mencoba membangkitkan gairahku.

�apaan sih abang, emg cuma abang yang perlu nissa layanin. Kan ada dante bang yang harus sekolah. Abang jangan ganggu nissa dulu nanti angus ni masakkan nissa.�

Sambil coba meleaskan pelukannya dari belakang dengan tangan kiriku, walaupun sebenrnya aku juga tak ingi n bang rudolf melepaskan tangannya. Karena memang tanpa bang rudolf rangsang pun gairahku sudah mencapai ubun-ubun.

�tapi abang kangen niss, kangen ini, kangen ini, kamu cantik banget lagi pagi ini. Pakai baju merah kesukaan abang, rambutnya diiket keatas, belum mandii. Nisaaaa.....� begitu jawabanya sambil meremas sebelah payudaraku, juga menyentuh kewnitaanku.

�tapi bang....� belum selesai aku menjawabnya, dia sudah mengangkat tangan kirikuke atas yang memang tidak memegang alat masak. Aku tau aa yang suamiku mau.

�coba angkat tanganya keatas sayangg,, abang mau cium keteknya nisaa.� Karena tanganku memang sudah terangkat, maka langsung saja bang rudolf menciumi ketiakku dengan rakus dari belakang. 
Tanpa menghentikan kegiatan tanganya terhadap payudaraku.

�baanngg,, sabar dulluu,, nissanya lagii... aahhh gelii bangg..� aku sungguh tak tahan dengan geli yang dihasilkan oleh sentuhan lidahnya itu, sampai tak mampu lagi untuk menolak.

Bang rudolf terus saja melakukan kegiatannya. Menciumi ketiak kiriku, meraba payudaraku yang putingnya kembali mengeras, kadang tangan satunya juga meraba kewanitaanku dari luar pakaianku. Semua rangsangannya sungguh menyiksaku disaat aku harus tetap fokus pada masakkanku.

Aku terus memasak sambil tersiksa dengan semua perlakuan suamiku ini.

�aahhh, abangg.. sabaar bang.. ini sebentar lagi ko.� Ucapku

�mana bisa sabar kalo kamu udah ga pake apa-apa lagi dibalik sini niss, kalo abang tunggu nanti malah dantenya keburu bangun malah ga bisaa. Mmmhhhh� jawabnya sambil terus menciumi ketiakku juga meraba-rabai payudaraku yang satunya.

�aishhh, abangg ini udah beres ko udah nii.. nisaa matiin dan angkatt ahhhhh,, ooohhh� lagi-lagi belum beres aku berkata jari bang rudolf sudah menusuk liang kewanitaanku, membuatku mendesah tak tertahan.

�udah basahkan istrinya abang, udah pengen juga kan..� timpalnya sambil mengejekku

�uuuhh, iya tapi ini nisa tinggal angkat ko bang. Ahhh, abang sabar duluu..� akhirnya dia mengerti dan beranjak bangun searaya aku mematikan kompor juga mengangkat massakanku.

�abang duduk dulu ya dikursi makan situ, nanti nissa susulin abang.� Dia menuruti perintahku, mungki dia merasa percuma juga memaksaku karena dia pasti mendapatkannya jika menurut.

�iya istrikuu, abang tunggu situ ya, janganlama tapi niss� jawabnya

Aku langsung mengangnkat masakanku dari penggorengan kepiring. Dan menuju temmpat cucian piring untuk langsung mencucinya. Dengan buru-buru aku coba membersihkan semua alat masakku tadi yang ternyata memang mamakan cukup banyak waktu. Saat selesai mencuci, aku membuka pintu belakang rumahku agar cahaya matahari bisa masuk dan udara segar menggantikan udara didalam rumah. Setelah itu aku langsung membawa makananku menuju ke arah suamiku untuk aku letakan dimeja makan. Namun kulihat bang rudolf sudah tertidur dalam posisi duduknya, mungkin terlalu lama menungguku atau memang dia sangat mengantuk. Setelah aku letakan, mataku tanpa sengaja meliha tonjolan tegak dibalik celana suamiku. Memang tidak aneh melihat barang bang rudolf yang besar dan kokoh. Bahkan dalam keadaan bang rudolf yang tidur kejantanannya tidak melemas sedikitpun. Aku tersenyum kecil melihat benda yang kurindukan selama ini akhirnya termpampang dihadapanku.

Lalu aku dengan perlahan mengangkangi paha bang rudolf, hendak duduk diatas pangkuannya. Sebelum duduk aku ciumi keningnya lembut, berharap dia bangun dengan ciumanku ini. Tapi ternyata tidak, maka aku langsung saja duduk dipangkuannya dan mamagut bibirnya yang sedang terlelap. Karena memang libidoku sedang tinggi dan sedari tadi menahan siksaan yang diberikan bang rudolf. Jadi sekarang aku tak mau menunggu lama lagi. Terasa tonjolan kejantanannya menekan-nekan kewanitaanku, keras dan besar. walaupun masih tertutup celana, tapi karena aku tidak memakai celana dalam jadi terasa langsung dikewanitaanku. Aku terus menciuminya dengan penuh gairah hingga akhirnya suamiku sadar dan membalas ciumanku dengan ganasnya.

Kami berdua melepas rindu yang kian lama terbendung terpisah oleh jarak dan waktu. Kini kami adalah dua sejoli yang hanya dipisahkan oleh selembar celana dan sehelai baju tipis. Kami terus berpagutan. Bang rudolf juga menambahkan sentuhan-sentuhan terhadap daerah sensitifku. Dimana perlakuan itu membuatku semakin tak tahan dan bergairah. Bahkan ciuman-ciuman kami terddengar begitu berisik, basah. Desahan-desahan pun tak mampu kutaha dari mulutku. Dahaga yang sekian lama kupendam akhirnya dapat kulepaskan di pagi hari yang cerah ini.

Saat hendak melangkah ketaha selanjutnya, bang rudolf sudah mengangkat setengah pakaianku untuk dibukanya, tanganku pun sudah terangkat untuk membantunya.

�mamaa,, ayaahh,,,� terdengar suara dante yang ternyata sudah keluar dari kamarnya. Sambil mnegucek matanya yang masih terlihat sayu.

Secara reflek tanganku langsung menurunkan pakaianku yang tadi sudah hampir terbuka. Lalu langsung berdiri menghampiri dante anakku. Untuk memeluknya dan sedikit menutupi keadaan suamiku yang sedang tegang tinggi. Sambil memberi isyarat pada bang rudolf untuk membalikan badanya sehingga tonjolanya tidak terlihat.

�dante sudah bangun,, sini peluk mama.� Aku mendekap dante dalam keadaan membungku dan merapatkan wajahnya kedadak untuk menutupi keadaan ayahnya. Namun dengan isengnya bang rudolf malah menusukan jarinya ke dalam kewanitaanku. Dalam keadaan membungkuk otomatis membuat kewanitaanku yang tanpa penutup apapun terpampang dihadapan bang rudolf.

�aaahhh.......� aku melenguh panjang dalam posisi yang sama dihadapan dante.

�mama kenapa ko teriak gitu??� tanya dante anakku.

�mama gpp ko dantee ouuhh..� jawabku yang sedang dalam keidengan suamiku.

�oh, mama masih nagntuk ya, itu masih nguappp.� Jawab dante.

�aahhhh, iyaa nak. Mama masih ngantuk ni dikit. Tapi dante udah bangun jadi mama harus urusin dante. Dante sekolahkan.� 
Sambil bangun menggendong anakku dan membalikan badan ke arah bang rudolf dan memelototinya karena keisengannya tadi. Bang rudolf hanya tertawa kecil melihatku cemberut dan melotot.

�iya dante mau sekolah ma.� Kata dante

�ayah pulang semalam ya, ga akan pergi lagi kan yah? Dante kangen.� Lanjutnya

�iya ayah ga akan pergi lagi dante, ayah mau nemenin mama aja dirumah.� Jawab bang rudolf sambil mengelus wajah dante.

�kamu mandi gih nak, biar segar, biar langsung berangkat sekolah, biar cepet ketemu temen, biar mama sama ayah bisa lanjutin... awww� belum selesai dia berrucap aku sudah mencubit perutnya.

�yaudah yuk dante mandi, sini mama temenin.� Jawabku sambil masih mencubit perut bang rudolf yang masih saja tertawa kecil melihatku kesal.

Aku berjalan menuju kamar mandi belakang untuk memandikan dante.

�dante jangan lama-lama mandinya, kasian mamanya tanggung.� Teriak bang rudolf dari ruang makan.

Wajahku langsung memerah malu mendengarnya. Karena memang benar aku tanggung sekali. Awalupun dante belum mengerti aku tetap saja malu terhadap dante anakku.

Setelah memandikan dante dan beranjak menuju kamar. Aku lagi-lagi melewati bang rudolf yang masih berada di ruang makan sedang meminum kopi. Rupanya bang rudolf menyeduh kopinya sendiri saat aku sedang memandikan dante. Saat melewati bang rudolf, bang rudolf berdiri dan berbisik.

�habis selesai dengan dante dan dante berangkat sekolah. Kita lanjutin yang tanggung tadi sayang..�

Aku cemberut sekaligus senang bercamour kesal dan malu dengan kata-katanya. Tapi memang itu yang ingin aku lakukan. Segera menuntaskan ke tanggungan ini, rasanya tidak enak menggantung seperti ini. Aku ingin segera dipuaskan, segeraa. Makan dengan segera pula aku mempersiapkan dante untuk sekolah. 

Tunggu aku bang rudolf, tunggu sebentar lagi.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar