klik disini

Minggu, 19 Juni 2016

Malam Jahanam 2

Dua botol Jack Daniels dan delapan gelas kosong terongggok di atas meja. Puntung rokok bertebaran di sekitar asbak kecil yang overload. Snack dan kulit kacang berserakan di atas karpet. Dua remaja laki-laki terbujur tanpa busana di ruang tamu. Sepertinya sudah terjadi pesta seru sebelumnya.

"Wooiii bangun lu semua!! Dah jam 11 siang nih, check out. Mau ketinggalan pesawat lu!!" Doni keluar kamar membangunkan teman-temannya. Dengan gelagapan, Santo dan Iwan, bangun mencari pakaiannya. Doni mengecek kamar satu lagi yang diduga ada Reza. 

"Nyet, bangun nyet, dah siang. Check out, dah jam 11. Pesawat kita jam 1," Doni membangun Reza.
"Masih subuh nih bro. Masih ngantuk gue," Reza malas-malasan. 
"Bangun luh Nyet, mandi, bersihin mani lu tuh!" Hardik Doni.

Keempat remaja itu terpaksa bangun, meski kepala masih terasa pusing. Mereka harus mengejar pesawat kembali ke Jakarta dari Denpasar. Doni, Santo, Iwan, dan Reza pergi ke Bali untuk merayakan ulang tahun Santo yang ke-17. 

Santo yang mentraktir, mulai dari tiket, hotel, sampai segala macam hiburan selama akhir pekan. Di malam terakhir, keempatnya menggelar pesta bersama empat wanita panggilan yang menemani sampai tak sadarkan diri. 

Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta, mereka hanya diam. Kepala mereka pusing dan ngantuk. Sampai tiba di rumah masing-masing rasa itu tidak hilang. 

"Gimana pestanya sayang? Asyik?" Mamanya Santo senang melihat anak satu-satunya kembali dari Bali.
"Asyik Mah. Gila puas. Makasih ya Mah," Santo disambut mamanya saat melintas di ruang tamu. 
"Ya udah, istirahat deh, besok sekolah."
"Iya mah, masih pusing nih kepalanya."
"Ha ha ha ha. Ya udah sana."

Keesokan harinya, tak lama setelah bel pulang sekolah berbunyi keempat sahabat itu berkumpul di salah satu sudut kantin. Doni, Santo, Iwan, dan Reza tertawa terbahak-bahak. Mereka melihat rekaman video saat menggelar pesta terakhir. 
"Anjing tuh cewek, sedotannya gila," ujar Iwan yang melihat dirinya sedang dioral. 
"Gua mah dah gak inget Wan. Seinget gua, gua ngabisin setengah botol. Itu yang gue inget, artinya gua masih minum lagi kan. Gua dah pasrah aja tuh cewe mau ngapain. Kayanya Santo yang nikmatin banget ngewenya, ha ha ha ha.." Balas Doni.
"Ya wajar dong Don, dia kan lagi ulang tahun. Rugi kalo ngewe pas mabok, gak bisa ngerasain, ha ha ha," timpal Reza.

Namun ketiganya langsung terdiam ketika melihat Santo ternyata sedang terpukau melihat seorang sisiwi yang melintas di lorong kantin. Mereka tahu kalau Santo menyukai Vina, siswi kelas 1C.

"Nyet, cewek telanjangnya di sini. Yang itu kagak telanjang," Doni coba menyadarkan Santo.
"Ha ha ha ha," mereka tertawa bersamaan.
"Lu suka ya To sama Vina. Kejar dong, masa gak bisa dapet lu?" Iwan menimpali. 
"Bisa, kenapa gak bisa?" Santo merasa tertantang.
"Yakin bisa? Bukan bisa jadian doang ya?" Balas Iwan.
"Terus?" Santo penasaran. 
"Bisa dapet perawannya. Gue yakin tuh anak masih perawan," tantang Iwan.
"Ah lu gila. Otak lu emang gak jauh-jauh dari selangkangan," balas Santo.
"Kaya elu kagak aja, he he he."
"Ya udah, kalo gue bisa, lu mau kasih apa?"
"Gue modalin elu ke Singapur dua malam, dua orang. Tapi kalo elu kaga bisa, gantian elu yang modalin gue, gimana? Deal?"
"Ya kalo itu mah, deal! Salaman."
"Eh gak pake waktu? Berapa lama? Ntar sampe kita tua Santo masih ngejar perawannya Vina, ha ha ha," Reza menyela. 
"Oh iya, kasih gue waktu tiga bulan," Santo merasa yakin. 
"Kelamaan, satu bulan," balas Iwan.
"Gak mungkinlah, gue kan perlu pe-de-ka-te. Belum lagi spik-spik. Dua bulan dah," tawar Santo. 
"Ya udah dua bulan ya, mulai hari ini, jam sekarang. Bukti kalo elu berhasil, selain foto dia, celana dalemnya juga," balas Iwan.
"Okeh deal," Santo meyakinkan dirinya.

"Woi woi Sob. Mulai gak bener lu pade. Kasihan," Doni tiba-tiba menyela. 
"Kenapa Don?" Iwan merasa terusik.
"Dia anak baik-baik. Pantang hukumnya bikin anak orang jadi gak baik. Kalo mau ancur, ancur sendiri aja, jangan ngajak-ngajak orang," Doni coba meluruskan. "Mending cewek lain aja. Kaya gak ada cewek lain. Tuh ada Sasha," ujar Doni.
"Yah kalo Sasha kan elu yang merawanin Don. Eh terus kita gilir. Gak menantang," balas Iwan. "Menurut lu gimana Za?"
"Menurut gue mah terserah elu berdua. Dosa elu yang nanggung, dapet hadiah juga elu yang nikmatin. Sok aja."
"Ha ha ha tuh Don, Reza setuju. Kalah lu, 1 lawan 3," balas Iwan.
"Yah terserah dah," Doni pasrah. 

Mulai saat itu Santo fokus mendekati Vina. Vina adalah salah satu siswi kelas 1 yang menarik perhatian para kakak kelasnya. Wajahnya imut, innocent, sedangkan kulitnya putih bersih. Yang membuat para siswa laki-laki tertarik tentu saja bentuk tubuh Vina. Di balik seragam sekolahnya, Vina menyimpan lekuk tubuh yang aduhai, sintal. Ranumnya payudara Vina bisa diterka dari tonjolan di dadanya. 

Sehari-hari Vina selalu tampil ceria. Bahkan kadang kala ia tampil kekanak-kanakkan. Vina tak ubahnya boneka Barbie. Tidak sedikit siswa yang mendekati Vina. Tapi sebenarnya Vina menyukai salah satu seniornya, Dimas.

Sayangnya, Dimas sepertinya tidak memberi perhatian padanya. Mereka hanya pernah berkenalan dan bertegur sapa jika berpapasan. Dimas tak pernah sengaja mendatanginya untuk mengajak ngobrol.

Hari demi hari Santo mencari cara untuk mendekati Vina. Mulai dari kenalan langsung, minta nomor telepon, hingga mendekati teman-teman dekat Vina di kelasnya. Santo menggunakan semua jaringannya, termasuk kepopularannya. 

Lewat salah satu teman dekat Vina, Mita, Santo berhasil mendekati Vina. Santo pun mulai gencar melakukan pendekatannya sendiri. Sampai dua minggu kemudian, ia mengajak Vina pacaran.

"Gimana ya, gue gak boleh pacaran sama Mama?" Ujar Vina apa adanya saat mereka berdua saja di mobil Santo.
"Gak boleh apa elu mau gak pacaran?"
"Kalo pacaran sih mau, tapi terus terang gue gak ada perasaan sama elo. Elo baik, tapi gue biasa aja, jangan marah ya," Vina mencoba berterus terang. Vina sebenarnya masih berharap bisa pacaran dengan Dimas. 
"Oooo gak apa-apa. Gue tahu kok, nggak bisa maksain perasaaan. Tapi gue berharap elu mau kasih kesempatan buat gue, kalo gue bisa bikin elo punya perasaan sama gue. Nanti kalo elo bener-bener gak suka sama gue, elo putusin gue aja. Gue bisa terima kok," rayu Santo.
"Eee gimana ya. Gue gak tahu,"
"Ya udah, kalo belum tahu jawabannya, gue bisa tunggu kok. Tapi jangan lama-lama ya," ujar Santo.

Vina sebenarnya ingin menunggu Dimas untuk mengajaknya berpacaran. Tapi ia tak mengetahui apakah Dimas benar-benar menyukai dia atau hanya sebatas teman saja. 

Mita yang menjadi teman dekatnya di kelas memprovokasi Vina untuk menerima ajakan Santo. "Gak ada ruginya Vin, untung malah. Elu ada yang nganterin kalau pulang sekolah. Kalau mau kemana-mana juga pasti ditemenin. Apalagi kalau kita bisa bikin dia seneng, pasti dikasih hadiah," ujar Mita.

"Emang pacaran ngapain aja sih Mit?"
"Ha? Elu belum pernah pacaran ya? Kok tanyanya begitu?"
"Iya, belum pernah," Vina jujur.
"Ha ha ha ha. Pacaran paling ngobrol-ngobrol doang. Sayang-sayangan, lewat telpon. Terus paling ciuman. Nah elo pasti juga belum pernah ciuman kan, coba deh he he he. Tapi kalo dia minta yang macem-macem elo langsung tolak. Kalau perlu elu ancam putus, atau teriak ha ha ha ha," Mita memberikan pandangan.

"Tapi Mit, sebenernya gue suka sama orang lain, bukan Santo," Vina coba mengutarakan isi hatinya.
"Ha? Siapa?" Mita penasaran.
"Sama Dimas," ujarnya pelan.
"Oooo Dimas anak kelas 3 IPS itu ya? Dia sih macho, keren. Tapi kalo dibanding Santo, mendingan elu pilih Santo aja deh. Lebih tajir, pastinya elu bakal dimanjain," ujar Mita.
"Lagian selama ini gue lihat, Dimas gak pernah ngejar-ngejar elu. Sekarang ada Santo yang dah pasti suka sama elu, dan terima Santo aja," bujuk Mita.

Vina pun akhirnya menerima ajakan Santo untuk pacaran. Vina senang karena apa yang dibilang Mita ternyata benar. Ada orang lain yang memanjakan dirinya. Santo dengan segala kelebihan materinya mampu memberikan Vina berbagai kemewahan. Ia bahkan terharu ketika Santo memberikan kalung berlian.

"Santo ini apa? Terlalu berlebihan. Gue dikasih bunga aja sudah senang. Gue gak bisa terima ini," ujar Vina.
"Elo terima aja Vin. Itu bukti kalau gue sayang banget sama lo," ujar Santo.
"Tapi gue tetap nggak bisa Santo, terlalu mahal buat gue."
"Begini aja. Gue titip barang itu di elo, suatu saat nanti gue ambil lagi. Tapi kalau elo suka, silahkan elo ambil. Kalau elo pinjam untuk pakai, silahkan," Santo memperhalus pemberiannya. 

Vina yang baru pertama kali pacaran luluh hatinya. Di mata dia, Santo mewujudkan dongeng pangeran yang jatuh hati pada perempuan sederhana. Dia merasa seperti Cinderella.

Meski pemberian kalung berlian itu terkesan hanya untuk memikat Vina, tapi sebenarnya Santo ikhlas. Ia benar-benar mengagumi Vina. Vina sangat cantik, ia ingin kalung itu menambah kecantikannya. Ia berharap sekali, jika Vina benar-benar mau menjadi pacarnya. 

"Gimana bro, tinggal dua minggu lagi nih. Elu dah beli tiket belom buat gue?" Tanya Iwan saat pulang sekolah. 
"Ha ha ha dua minggu bro, masih lama. Pasti gue menang," ujar Santo.
"Ya baguslah kalo elo yakin. Keep fighting man!" Iwan coba menyemangati.

Taruhan itu sepertinya menjadi simalakama. Baru kali ini Santo merasa tidak ingin menjadikan perempuan sebagai objek seks belaka. Santo sangat mau ML dengan Vina, tapi itu bukan tujuannya sejak awal. Hanya saja jika ia tidak berhasil memberikan bukti, ia akan dipandang sebelah mata. Ia merasa bukan siapa-siapa.

Iwan sengaja memancing Santo untuk mendekati Vina untuk menaikkan harga dirinya. "Biar jangan minder bro. Jangan sampe dia nggak berani dekatin Vina cuma gara-gara kontolnya doang. Lu liat sendiri kan, kalo ada Vina tuh anak langsung melotot. Feeling gue, dia suka beneran sama tuh anak," jelas Iwan kepada Doni tanpa sepengetahuan Santo.

"Vina sayang, besok main ke rumahku ya. Kamu kan belum pernah ke rumahku. Biar kamu tahu juga," ujar Santo lewat pesan singkatnya.
Vina yang sedang berbunga-bunga mendapat pacar, hanya bisa mengiyakan ajakan Santo. Bagi Vina, Santo adalah laki-laki yang baik sekali. Vina sangat tersentuh dengan perhatian Santo, tak hanya hadiah, tapi juga kata-kata mesra yang mulai biasa diterima Vina. Vina hanya bisa menyimpan hal itu untuk dirinya. Kedua orangtuanya tidak tahu. Terlalu besar resikonya jika sampai diketahui.

Sepulang sekolah, Santo akhirnya memboyong Vina ke rumahnya. Ia sudah menyiapkan skenario sebagai penentu kemenangannya atas Iwan. Lewat Tante Dona, Santo berhasil mendapatkan sejenis obat tidur. Obat itu mampu menghentikan sementara syaraf tubuh. Beberapa fungsi anggota tubuh akan berhenti, seperti dibius.

Obat itu juga tidak memiliki rasa, bau, dan warna. Tapi Dona menyarankan agar dicampur dengan sirup agar lebih tersamar. Santo berterima kasih atas pemberian itu. "Ternyata kamu lebih gila dari Papamu," ujar Dona yang tahu maksud Santo.

Saat itu kondisi rumah Santo sepi. Sehari-harinya rumah itu memang sepi, ia tidak perlu mengkondisikan apa-apa. Lima pembantunya ada di belakang kalau sudah siang seperti itu. Papanya pasti di luar rumah, bahkan bisa jadi tidak pulang. Sedangkan Mamanya biasanya kencan dengan Romi. 

Meski Mamanya sudah kembali ke rumahnya, bukan berarti kehangatan di rumah itu kembali seperti dulu. Santo bahkan tidak bisa mengerti apa yang terjadi di rumah itu. 

Mamanya sering membawa Romi nginap jika Papanya tidak ada. Waktu pertama kali, Santo marah melihat kelakuan Mamanya. Ia mendatangi apartemen Dona, mengira Papanya ada di sana untuk diajak melabrak Romi. Tapi ternyata Papanya tidak ada, dan Santo malah bermalam di tempat Dona. "Sudah kamu gak usah ikut campur urusan orangtua. Kamu nikmatin aja masa mudamu," Dona menenangkan Santo.

Dan Santo benar-benar menikmati masa mudanya. Ia menjelma sebagai petualang jembut belantara dan pendaki gunung kembar. Ia ingin menorehkan prestasinya. 

Vina terkagum-kagum dengan rumah Santo saat tiba. Rumah Vina tidak jelek, tapi dibanding rumah Santo, kemegahannya tidak tertandingi. Ia masuk dengan canggung, siap-siap berhadapan dengan Mamanya Santo. Ia duduk di ruang tamu, sementara Santo menyiapkan minuman ajaibnya. 

Vina membuat dirinya nyaman di sofa. Tak berapa lama, Santo membawa minuman ajaibnya yang sudah dicampur sirop. Dia mempersilahkan Vina meminumnya. "Mama-Papa kemana To?" Ujar Vina.
"Kerja," jawab Santo ringan.
"Yang lain? Kamu sendirian aja di rumah kalo siang?"
"Iya, paling pembantu di belakang. Kalo siang begini sepi, makanya aku lebih senang main sama Doni," ujar Santo.

"Ooo....," ujar Vina sambil mengambil gelasnya. Santo yang duduk di sofa sebrang Vina menyimpan senyumnya. Dia dengan seksama memperhatikan gerakan tangan Vina. Santo ingin memastikan jika Vina benar-benar mengangkat gelas itu dan mendekatkan ke bibirnya. Dan ketika Vina menenggak minumannya, Santo memperlihatkan senyumnya. 

"Kamu mau makan gak? Kalau mau, aku bilang sama mbak di belakang biar disiapin," ujar Santo yang merasa senang rencananya akan berhasil. Vina hanya menggeleng kepala, sambil menghabiskan minumannya. Kebetulan dia memang haus.

Namun tidak sampai satu menit meminum air dari gelas itu, kepala Vina terasa pusing. Badannya terasa lemas, bahkan ia merasa tak kuat menjaga tubuhnya hingga hanya bisa bersandar saja. "Kok aku tiba-tiba pusing To?" Ujar Vina. 

"Ooo mungkin kamu belum makan kali. Makan ya biar disiapin," ujar Santo berpura-pura. 
Kali ini Vina tidak bisa lagi menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar pusing. Tubuhnya terasa melayang. 

Antara sadar dan tidak Vina tahu jika Santo membopongnya. Membawa ke kamar di lantai dua. Di dalam hati Santo, inilah saatnya. Vina sudah benar-benar terpengaruh dengan obat dari Tante Dona.

Setelah merebahkan Vina, Santo segera mencumbu pacarnya itu. Santo menciumi bibir Vina, wajah, hingga rambutnya. Tak hanya itu, tangannya juga meraba payudara Vina yang masih tertutup seragam sekolah. 

Melihat Vina seperti itu Santo terangsang sekali. Selama ini Santo hanya mampu membayangkan tubuh Vina saja, tapi kali ini apa yang diinginkan Santo ada di hadapannya. Vina tergolek lemas, pasrah dengan apapun yang terjadi.

Santo merangsang Vina dengan mencumbu payudaranya. Santo juga mengelus paha Vina yang sedikit tersingkap dari roknya. Satu-persatu, kancing kemeja Vina dibuka. Santo melakukannya perlahan, seakan sedang membukan bungkusan kado yang sangat bagus. 

Setelah semua kancing terbuka, Santo melihat dua gundukan yang selama ini hanya bisa dibayangkan saja. Gundukan itu masih terbungkus bra berwarna krem. Kombinasi bra krem dan kulit perut Vina yang putih mulus membuat Santo semakin terangsang. 

Ia menciumi payudara Vina meski masih terbungkus. Dia juga menciumi perut Vina yang mulus. Lama-lama, Santo menciuminya dengan kasar. Bahkan saat membuka BH Vina, Santo sedikit memaksanya. Ia kesulitan untuk membuka BH karena masih ada seragam sekolah Vina. Dia harus membolak-balik tubuh Vina.

Setelah berhasil melepaskan pakaian atas Vina, Santo kembali melanjutkan aktivitasnya. Dengan rakusnya Santo melahap buah kembar Vina. Santo lupa diri, dia lupa dengan yang lain, tidak peduli. Bahkan dia juga tidak peduli dengan Vinanya sendiri. Baginya saat itu, dia sedang menikmati hadiah yang sangat indah. Hadiah yang selama ini dia impikan, terlepas dia mengikat perjanjian dengan Iwan. 

Vina ada hadiah terindah dalam hidupnya. Tubuh Vina bak bidadari yang datang dari surga, mengalahkan tubuh semua perempuan yang pernah bersamanya. Tubuh Vina menjadi hadiah yang harus dinikmati saat itu.

Vina tak bisa memperlihatkan ekspresi apa-apa. Bahkan kalaupun dia ingin melawan, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya lemas. Hanya bola matanya yang kadang melotot, menyipit, hingga akhirnya tertutup. Dan Santo tidak mengetahui hal itu, dia benar-benar tidak peduli dengan sekelilingnya, juga tidak peduli terhadap Vina itu sendiri.

Puas melumat dua buah kembar yang montok itu, Santo beralih menuju pintu surga yang masih tertutup rapat. Pertama-tama dia menyibak rok Vina ke atas hingga paha yang putih mulus terlihat jelas. Bahkan celana dalam krem Vina kini menyita perhatian Santo. 

Santo semakin lupa diri karena penasaran akan bias rambut-rambut selangkangan Vina di celana dalam itu. Dia segera melepaskan rok abu-abu Vina. Meski harus mengangkat pinggul Vina, tapi dia berhasil meloloskan rok itu. 

Kini Vina hampir telanjang, tinggal celana dalam saja yang menutupi tubuhnya. Dan Santo dengan sigap melucutinya. Detak jantung Santo berdetak keras, nafasnya pun semakin cepat, birahinya sudah di ubun-ubun. Ia ingin segera memerawani Vina. Ia tidak lagi peduli dengan teori-teori atau cara bercinta yang biasa dia lakukan bersama Tante Dona atau Sasha. Ia ingin penisnya segera menancap di vagina Sasha.

Dia langsung membuka semua bajunya, telanjang bulat seperti Vina. Dengan sekali gerakan, Santo memposisikan penisnya di depan vagina, tangannya mengangkat kedua kaki Vina dan mengangkangkan lebar-lebar. Dia menekan panggulnya agar penisnya masuk ke vagina Vina. 

Ia agak kesulitan namun akhirnya dia merasa penisnya dijepit vagina Vina. Santo melihat Vina yang menutup matanya. Ia tidak peduli lagi, entah Vina menikmati, kesakitan, atau merem karena pingsan. Baginya yang terpenting adalah memuncratkan spermanya di tubuh Vina. 

Maka Santo menggenjot penisnya. Tak butuh waktu lama untuk ejakulasi, karena Santo sangat bernafsu bercinta dengan Vina. Saat dia akan orgasme, Santo mencabut penis dan memuncratkannya di atas perut Vina.

Santo ngos-ngosan, nafasnya tersengal-sengal. Dia ambruk di samping tubuh Vina. Setelah kenikmatan orgasmenya reda, Santo ingat akan perjanjiannya dengan Iwan. Dia pun mengambil gambar Vina yang terbaring telanjang dengan cairan sperma di perutnya. 

"Kamu jangan nangis sayang, aku cinta kamu," ujar Santo sambil mengecup bibir Vina. Dia melihat Vina menitikkan air matanya. 
Santo benar-benar melihat Vina sebagai obyek saja, bahkan dia tak peduli dengan perasaan Vina ketika dia meminta celana dalamnya. "Celana dalammu buat aku ya, kenang-kenangan," ujarnya.

Setelah itu Santo membersihkan bekas spermanya di perut Vina. Dia juga membantu Vina memakaikan pakaiannya lagi karena Vina masih lemas. Setelah itu, Santo berpakaian kembali dan rebah di samping Vina.

Hampir satu jam kemudian tubuh Vina bisa digerakkan kembali. Dia duduk di atas kasur menangis terisak, sementara Santo terlihat sudah mendengkur ketiduran. Vina marah sekali, hidupnya terasa hancur. Maka saat merasa tubuhnya sudah kuat, ia pun melarikan diri. Ia ingin pergi dari rumah neraka itu secepatnya. Ia pulang naik taksi.

Santo bangun dari tidur, dia bingung karena Vina sudah tidak ada. Dia coba menghubungi telepon Vina, tapi tidak tersambung. Dia mungkin khawatir, tapi kemudian dia ingat kalau dia telah sukses mendapatkan tujuannya. Santo kemudian menelepon Iwan.

"Nyet, siapin tiket! Elo kalah ha ha ha ha," ujar Santo. 
"Weeideeeehhh udah berhasil bro? Mana buktinya?" Balas Iwan.
"Besok dah gue bawa ke sekolahan," ujar Santo. Santo merasa bangga karena dia berhasil menang dalam pertaruhannya. Dia bisa tersenyum di depan kawan-kawannya besok. Tapi dia juga teringat akan Vina. Maka semalaman dia coba menghubungi Vina meski tidak diangkat-angkat.

Keesokan harinya Santo berkumpul bersama tiga sahabatnya. Saat istirahat mereka bertemu di salah satu pojok kantin membicarakan kesuksesan Santo.
"Mana buktinya bro?" Tanya Iwan yang sudah siap dengan janjinya.
"Nih liat, bukan sombong ya, gue bisa!" Ujar Santo sambil memperlihatkan foto di HPnya kepada Iwan. Doni dan Reza pun penasaran dengan foto yang ada di HP Santo. 
"Nih satu lagi bro," ujar Santo sambil mengeluarkan kain yang berbentuk celana dalam perempuan dari kantong celananya. 
"Ha ha ha ha," tawa mereka muncul bersamaan. Namun Doni langsung memungut celana dalam itu untuk dikembalikan lagi ke Santo. Sadar jika nanti akan membuat curiga orang di sekitar mereka.
"Ha ha ha, ini simpan dulu bro. Nggak enak kalo ada yang ngeliat," ujar Doni.
Santo mengikuti saran Doni. "Jadi gimana Wan? Elu dah booking tiket sama hotel belum, gue mau pergi sama pacar gue nih," ujar Santo.
"Siap, segera gue pesen. Tapi sebelum itu gue ucapin selamat dulu. Terus elu harus cerita semuanya ke kita-kita," ujar Iwan. 

Ketiganya terbahak-bahak mendengarkan cerita Santo. Bahkan mereka tidak sadar jika mungkin saja di sekelingnya ada yang mencuri dengar. Tapi mereka merasa senang atas keberhasilan Santo. Keempat remaja itu benar-benar menikmati dunianya.Angin musim gugur berhembus kencang, dinginnya menembus daging hingga terasa di tulang. Buat mereka yang selama hidupnya tinggal di daerah tropis, kondisi alam seperti itu terasa menyiksa. Santo pun harus beradaptasi dengan kehidupan barunya di Melbourne. 

Selepas SMA, Santo memilih kuliah di Australia. Kedua orangtuanya sangat setuju dengan keputusan Santo. Tentu saja, masing-masing punya alasan tersendiri mendukung hal itu. Santo sengaja memilih kuliah di luar negeri karena ingin meninggalkan sejenak keluarganya. Untuk sementara ia tidak ingin berhubungan secara langsung dengan Papa dan Mamanya.

Sedangkan bagi Papa dan Mamanya, kepergian Santo ke Australia malah membuat mereka lebih bebas. Keduanya tidak harus melakukan sandiwara di depan Santo. Mereka tidak perlu peduli satu sama lain, kewajibannya hanya mengirimkan uang untuk biaya hidup Santo di Melbourne. Selain itu, tak ada lagi.

Musim gugur sebentar lagi usai. Santo yang belum terbiasa dengan cuaca dingin hanya meringkuk di apartemennya. Untuk ukuran mahasiswa perantauan, apartemen Santo tergolong mewah dan sangat berlebihan. 

Mamanya yang mengantarkan Santo ke Melbourne memastikan anaknya tidak kekurangan sesuatu di kota itu. "Mama mau kamu tidak kekurangan apa-apa. Kalau Papa tidak kasih kamu uang, bilang ke Mama. Jangan sampai dia foya-foya dengan perempuannya sedangkan anaknya terlantar," ujar Mama Santo saat menemani dirinya beberapa bulan lalu.

Kini Mamanya sudah kembali ke Indonesia, dan Santo mulai menjalani perkuliahan. Dua bulan menjalani perkuliahan, belajar dan bergaul dengan terbatas membuat Santo mulai bosan. Dia kehilangan masa-masa indahnya di SMA bersama Doni, Iwan, dan Reza. 

"Sha.. Elu jadi pindah ke sini kan?" Santo menelepon Sasha yang juga kuliah di Melbourne. 
"Jadi, bentar lagi sampe To," balas Sasha di seberang telepon. 
Santo mengajak Sasha untuk menemaninya tinggal di apartemen. Tidak ada alasan yang merugikan bagi Santo dengan kehadiran Sasha di tempat tinggalnya. Justru dia malah memiliki teman yang sudah dikenal.

"Gak apa-apa nih To, gue tinggal di sini?" Ujar Sasha ketika sampai di apartemen Santo sambil membawa barang-barangnya.
"Ya elah, pake enak gak enak segala. Kalo elo ngewe ama gue, itu baru gak enak. Kontol gue kecil. Kalo cuma tinggal bareng mah gak usah lu pikiran Sha... Kaya gak kenal gue aja sih lu!" Balas Santo.
"Bukannya apa-apa To, kan gue tetep harus nanya dulu sama elo. Ntar kalo ada apa atau gimana yang gue kagak tahu, malah gak enak," Sasha coba berargumentasi.
"Elu ngapain nyari tempat laen. Dari dulu dah gue bilang kalo elu mau kuliah di sini, tinggal bareng gue aja. Nggak usah ribet-ribet. Nyokap lu kan dah kenal gue juga," ujar Santo.
"Iya-iya.. Gue tinggal di sini aja."

Sasha akhirnya memutuskan untuk kuliah di Australia. Berbeda dengan Santo, Sasha disuruh kuliah oleh "papa"nya. Sosok papa yang disebut Sasha sebenarnya bukan ayah kandungnya. Laki-laki itu adalah seorang pejabat yang menjadikan mamanya sebagai isteri simpanan. 

Di mata Sasha, Papanya orang yang baik. Mau membiayai kehidupan dia dan mamanya. Padahal Papanya itu tahu jika mama Sasha dulunya adalah seorang pekerja seks, meski untuk kalangan atas. Entah alasan apa yang digunakan Papanya, karena kalau soal seks semata pasti Papa bisa mencari barang baru. Tapi kini dia malah membiayai Sasha ke Australia.

Sasha tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Mamanya pernah cerita kalau ayah kandungnya adalah pelanggannya dulu. Tapi lelaki itu menolaknya dan mengatakan mama Sasha berbohong ketika diberitahu mengandung anaknya.

"To, kalo gue tinggal di sini berarti gue harus ngapain? Apa gue harus ngelayanin elu terus?"
"Ya elah Sha... Elu tinggal di sini nemenin gue. Ngelayanin apa maksud lu? Ngewe? Ya nggak harus kali. Kaya baru kenal aja. Urusan ngewe, kalo emang pengen ngewe, ya kita ngewe aja. Elu cukup temenin gue aja," Santo menegaskan.

"Ooo kirain gue harus ngelayanin elu kalo lagi sange," canda Sasha.
"Kalo itu kayanya bakalan gue yang jadi budak lu. Bukannya elo yang gampang sange?" Balas Santo.
"Wwwooooo....emang gue segitunya?"
"Lah biasanya? Doni aja sampe nyerah," ujar Santo.
"Ya abis, gue mau minta sama siapa lagi kalo bukan sama dia?"
"Kan ada Iwan atau Reza?"
"He he he...gak tahu To. Gue lebih nyaman sama Doni. Di antara elu berempat, gue paling nyaman sama Doni, terus sama elo. Sama Reza atau Iwan kalo kepepet aja, atau kalo mereka yang minta."
"Kok bisa gitu Sha, gue kira kita berempat sama aja di mata lo? Jangan-jangan elo......sama Doni. Ha ha ha ha..." Pancing Santo.
"Apa??? Cinta...?? Rugi kalo gue ngasih perasaan ke elu berempat!"
"Ha ha ha ha ha ha....."

Mereka pun tertawa bersama dengan lepas. Kuartet penjahat kelamin itu memang memiliki ikatan yang unik. Keempatnya berkumpul karena memiliki kesamaan hobi. Namun lambat laun mereka merasa memiliki persamaan nasib. Sasha, ratu yang ditemukan Doni, melengkapi persahabatan itu. Satu sisi visi mereka tak jauh dari urusan selangkangan, tapi dalam perjalanannya mereka tidak bisa menafikkan hati dan logika mereka. Seperti halnya Sasha yang merasa lebih cocok dengan Doni. 

Sasha menemani Santo di apartemennya. Satu minggu pertama keduanya menjalani tanpa ada kejadian apa-apa. Pulang-pergi ke kampus bersama-sama, belanja bersama, makan bersama, hanya tidur yang belum bersama. Kamar mereka terpisah di antara ruang keluarga.

"To, lagi ngapain lu?" Sasha menyambangi Santo yang sedang rebahan di kamarnya. 
"Browsing Sha, kenapa? Makanan habis? Yuk beli stock ke minimarket."
"Nggak, bukan itu. Makanan masih ada. Elu laper ya?" Sasha tidak jadi mengutarakan niatnya.
"Iya"
"Ya udah gue bikinin spagetti ya. Sekalian buat gue."
"Asyik. Nggak percuma ngajak lu ke sini. Ada yang masakin gue," balas Santo.

Sasha, meskipun dulunya tidak pernah bersentuhan dengan benda-benda di dapur, namun saat dia di perantauan mau tidak mau melakukan banyak hal. Apalagi kini dia menumpang hidup dengan Santo. Maka Sasha mencoba menjadikan dirinya berguna.

Sambil makan mereka ngobrol membicarakan tiga sahabat mereka. "Eh tadi elo mau ngapain nyamperin gue ke kamar?"
"Ha? Oooohh tadi? Nggak, bosan aja gue," ujar Sasha. 
"Oooo...kirain..."
"Kirain apa?"
"Kirain mau 'minta' sama gue...he he he...," pancing Santo.
"Iya sih, abis garing mau ngapain. Ngewe kayaknya enak. Abis di luar juga dingin banget," Sasha berterus terang.
"Ha ha ha, tuh kan sangenya kumat," Santo merasa menang. 
"Iya To, dah dua bulan nih. Gak ada Doni. Elu emang kaga sange? Dingin pula di sini."
"Iya gue juga. Ya udah abisin makanannya Sha."

Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan makan malam mereka, dan ingin menuntaskan kebutuhan biologis mereka. 
"Belakangan kita kok kaya canggung ya Sha?"
"Iya, padahal dulu kita santai-santai aja. Gue dah sering telanjang di depan lu. Tapi selama gue di sini, kita kayaknya coba jaga privasi."
"Iya Sha. Kalo gue sih sebenernya biasa aja. Gue aslinya memang begitu, suka di dalem kamar aja. Ngobrol seperlunya. Mungkin karena di rumah dulu, gue kaya gitu. Nah elu kenapa? Apa elu ngerasa sungkan sama gue?"
"Bisa jadi To. Gue kadang nggak enak sama elo. Semua gratis di sini," balas Sasha.
"Tuh kan, elu masih kayak gitu. Jangan dipikirin Sha. Kita dah kenal lama. Elu sama gue gak jauh beda nasibnya. Elu gak usah sungkan-sungkan lagi ya. Elu mau ngapain aja di sini bebas," ujar Santo.

"Iya, gue mulai ngerti. Ya udah, gue dah sange nih," ujar Sasha yang mulai melucuti kaos dan celana pendeknya.
"Ya udah, elu duluan gue bikin puas. Abis itu gantian," balas Santo yang juga butuh pelampiasan.

Udara dingin di luar tidak terasa bagi Santo dan Sasha yang saling memacu birahi di sofa ruang tengah apartemen itu. Kedua sahabat itu sudah sering memacu birahi bersama, sehingga Santo tahu betul bagaimana memuaskan Sasha. Lidahnya menjelajah seluruh tubuh Sasha.

Sasha pun tahu kehebatan sahabatnya itu. Meski penisnya paling kecil dibanding tiga temannya, tapi Santo sangat mahir mengoral klitorisnya. Bahkan jilatan Santo tidak ada yang menandingi.

"Oooooooohhhhhh......yes...enak banget To. Itilnya jilatin...." Sasha merintih.
"Gue sodok pake jari apa dildo? Biasanya elu bawa dildo?" Santo memberikan pilihan pada Sasha.
"Ada dildo di meja kamar gue To," ujar Sasha sambil terengah-engah. Santo pun bergegas ke kamar Sasha dan mengambil dildo yang masih terbungkus. 
"Belum lo pake Sha dildonya?"
"Belom, tadi gue mau pake. Tapi gue inget ada elo, kenapa nggak minta sama elo aja," balas Sasha.

Santo memasukkan dildo itu ke vagina Sasha sambil lidahnya menjilat klitoris. Sasha pun tak tahan menahan gelombang birahinya. "OoooOoohhhhh.....yessssss..... Enak To. Gue udah keluar."

Santo tersenyum melihat Sasha yang ngos-ngosan terbaring di sofa. Dia kemudian duduk memandangi vagina Sasha yang merekah. Nafsunya bangkit dan dia melucuti pakaiannya sendiri. "Sini gantian To. Kontol lu gue emut," ujar Sasha. 

Sasha langsung menghisap penis Santo. Dan tak berapa lama, penis santo mulai ereksi meskipun kecil. "Sha gue masukin ke memek ya?"
"Masukin aja To."

"Shit. Enak Sha. Anget memek lu," ujar Santo saat penisnya dilumat vagina Sasha.
"Goyang yang keras To. Biar gue terasa," pinta Sasha. 
Santo pun memompa penisnya dengan keras agar lebih terasa. Santo dan Sasha sudah tahu, jika mereka harus melakukan trik-trik khusus saat ML. Penis Santo yang kecil dan pendek tidak bisa masuk lebih dalam ke vagina Sasha. Namun dengan begitu saja, Santo merasa puas. Tak lama menggenjot tubuh Sasha, dia ejakulasi.

"Ooooohhhhh....nikmat Sha...." Tubuh Santo ambruk di atas tubuh Sasha. Mereka berdua tersenyum puas. Santo lalu berbaring di sisi Sasha. Sofa itu pun terasa sempit.

"To, lu tidur di kamar gue aja ya. Gue pengen ditemenin," ujar Sasha setelah mereka benar-benar reda dari birahinya. Santo pun menyanggupi permintaan Sasha.

Sejak itulah, Santo dan Sasha kembali pada gaya persahabatan mereka seperti dulu. Hanya saja kali ini mereka tidak ditemani Doni, Iwan, atau Reza. Mereka bersahabat, tinggal bersama, namun tetap menghormati privasi masing-masing. Satu sama lain tidak memaksakan keinginannya. 

Sasha cukup beruntung memiliki sahabat seperti Santo yang bisa menerima dirinya apa adanya. Begitupula Santo. Tapi bukan berarti kedua orang itu dengan mudah membuka hatinya. Mereka sama-sama pernah merasakan trauma sakit hati yang dalam.

"Elo nggak pernah coba cari pacar Sha?" Suatu kali Santo bertanya setelah mereka saling memuaskan nafsu di awal musim panas. "Banyak bule ganteng-ganteng di sini, kok gak ada yang elu pastiin yang mana?" Lanjut Santo.
"Elo nanya kaya elo bener aja To," balas Sasha.

"He he he... Iya sih kita memang nggak bener. Tapi maksud gue apa elu nggak kepikiran buat jadi bener?"
"Oooo, berarti sekarang elo lagi kepikiran buat jadi bener To?" Balas Sasha.
"Iya kepikiran aja. Gue lagi inget-inget hidup gue. Kok gue ada di sini sekarang. Di Melbourne, kuliah gak jelas, tinggal bareng elo, sahabat yang gue ML-in terus."
"Ha ha ha... Kenapa? nyesel ML ama gue?"
"Bukan nyesel, cuma lama-lama gue gak tega," ujar Santo polos.
"Ha? Sejak kapan lu punya perasaan gak tega? Lagian kalo kita ML kan kadang gue yang minta. Atau kalo elo yang minta, gue juga oke-oke aja. Gak ada masalah. Kenapa sekarang elo kepikiran?"

"Coba Sha elu inget-inget jalan hidup lo. Gue, ke Melbourne sebenernya bukan buat kuliah. Gue sengaja lari dari orangtua gue. Gue kesel sama mereka. Gue masih inget waktu nyokap ninggalin gue malem-malem abis dia berantem sama bokap. Gue nangis sejadi-jadinya. Tapi gue tetep kehilangan."
"Terus dateng Tante Dona. Awalnya gue marah sama dia, karena gue anggap dia yang bikin nyokap dan bokap pisah. Tapi lama-kelamaan gue gak bisa marah sama Tante Dona. Gue bahkan malah merasa beruntung ketemu Tante Dona. Gue tahu seks, dan dia bisa nerima gue apa adanya."
"Terus gue kenal Doni, elu, Iwan, Reza. Gue ngerasa gak sendirian. Gue punya kawan, gue punya orang yang peduli sama gue. Itu kenapa gue maksa elu tinggal bareng gue di sini Sha."
"Terus sampe kapan gue akan begini. Tapi kalo balik ke Jakarta, gue juga gak tahu gimana gue menghadapi hidup gue. Gue masih trauma dengan nyokap bokap. Gue sendiri nggak tahu gue mau ngapain ke depan. Kadang gue mikir, kalo emang udah gak jelas, buat apa lagi hidup?" Santo bercerita panjang lebar.

Sasha yang terlentang tanpa busana di samping Santo menarik selimut dan memiringkan tubuhnya, matanya menatap Santo. Dia menduga Santo sedang dalam titik rendah semangat hidupnya. Sasha memaklumi hal itu karena dia juga pernah merasakannya.

"Gak tahu To. Pertanyaan lu, gak jauh beda sama gue. Dan gue juga gak punya jawabannya. Dari kecil gue udah sering lihat nyokap gue pulang mabok. Gue udah biasa liat nyokap selalu diantar cowok yang berbeda setiap malam. Waktu kelas 5 SD gue penasaran, ngapain laki-laki yang nganterin nyokap ngak keluar kamar sampe pagi. Sampe gue liat nyokap ML sama laki-laki itu."

"Itu pertama kali gue tahu yang namanya ML. Tapi beberapa bulan kemudian, nyokap gak lagi bawa laki-laki pulang ke rumah. Yang ada nyokap malah jarang pulang. Kadang dia bilang mau pergi ke Bali, Singapura, atau lainnya. Gue tinggal sama bibi, pembokat gue."

"Gue seneng aja, karena kalo pulang nyokap beliin oleh-oleh yang banyak. Semua boneka ada di rumah gue. Tapi pas SMP gue mulai protes, gue gak mau ditinggal pergi sama nyokap lagi. Dia marah, karena katanya nyokap pergi untuk nyari duit. Tapi gue maksa. Bahkan gue sempet gak mau makan."

"Abis itu, nyokap selalu ngajak gue untuk pergi ke mana aja, selama tidak ganggu jadwal sekolah. Jadi kalo Sabtu-Minggu, gue ikut nyokap jalan-jalan, ke Bali, Singapura, Hong Kong, sampe ke New York."

"Lama-lama gue penasaran juga. Katanya nyokap pergi buat nyari duit. Tapi kapan kerjanya? Kalo siang dia nemenin gue sama pembokat gue jalan-jalan keliling kota. Cuma kalo malem aja dia gak ada di kamar hotel. Setelah itu gue sering tanya ke nyokap. Gue baru dijelasin kalau malam dia menemani tidur orang lain. Akhirnya lama-lama gue paham maksudnya nyokap."

"Dalam hati gue marah. Ngapain nyokap ngelakuin itu. Gue nggak segitunya pengen jalan-jalan atau lainnya, sampe nyokap harus begitu. Gue pernah bilang sama nyokap, bahkan gue sempet kabur dari rumah. Tapi akhirnya gue gak bisa menang. Kelas 3 SMP gue dah putus asa dengan nyokap, tapi dia malah nggak terlalu sering ninggalin gue di rumah. Abis itu ada laki-laki yang sering datang. Orangnya simpatik. Awalnya gue panggil dia om, tapi lama-kelamaan nyokap nyaranin gue panggil Papa."

"Suatu kali dateng Pak Ustad ke rumah gue. Nah saat itu mereka akad nikah. Gue baru tahu kalo mereka nikah siri. Gue seneng banget. Gue bisa manggil seseorang dengan sebutan Papa, meski dia bukan bokap kandung gue. Nyokap juga dah gak kaya dulu lagi. Dia di rumah aja, nunggu Papa kalo dateng. Kadang kala gue jalan-jalan keluar negeri bertiga."

"Gue maklum dengan nyokap gue waktu dia dilabrak sama isteri pertama Papa. Nyokap dikatain pelacur. Tapi nyokap cuma tersenyum aja, sambil jawab. 'Gue emang pelacur. Suami lo juga tahu kalo gue pelacur, tapi dia yang mau jadi suami gue. Yang salah siapa? Gue gak minta dia nikahin gue kok. Gue selalu bilang ke suami lo. Pake gue aja, ML, bayar, selesai. Gak usah nikah siri segala, tapi laki lu pengennya nikah. Dan asal lu tahu, gue nggak ngarepin dapet warisan dari laki lu. Tabungan gue cukup buat pensiun gue. Dan masih banyak laki-laki lain yang mau ngasih gue duit.' Nyokap gue ngomong kayak gitu. Gue tersentak, nyokap gue ternyata begitu kuat."

"Sejak itu gue paham, bahwa laki-laki sebenernya emang gak jauh-jauh dari urusan selangkangan doang. Apalagi pas ketemu Doni, sama elo dan lainnya. Klop dah. Tapi yang gue belajar dari nyokap, gue harus mandiri. Gue gak boleh tergantung sama orang lain. Termasuk sama elo saat ini. Makanya gue ngerasa nggak enak. Di sini gue nggak nyumbang apa-apa. Dari tempat tinggal, makan, sampe berangkat ke kampus, elo bantu gue."

"Ada yang enggak gue bantu Sha," Santo memotong.
"Apa?"
"Beliin pembalut sama pasang IUD, ha ha ha...." Ujar Santo.
"He he he, kalo pembalut, make up, mah emang tanggung jawab gue. Kalo spiral, gue ditemein nyokap gue dulu, ha ha ha ha...," ujar Sasha.

"Tapi To, gue belajar banyak dari nyokap gue. Dia memang pelacur, makhluk yang hina. Tapi dia nyokap gue. Dia nggak ninggalin gue, dia nggak nelantarin gue. Coba lu liat, masih ada perempuan yang bunuh bayinya waktu ditinggal laki-laki yang ngehamilinnya. Atau masih ada orangtua yang ngejual anaknya. Nyokap gue nggak pernah begitu. Dia selalu melindungi gue dari laki-laki yang mau jahat sama gue. Dia selalu bilang bahwa laki-laki hanya terkesan kuat dari luar, di dalamnya mereka gak pernah bisa sekuat perempuan. Laki-laki bisa nikmatin tubuh perempuan, tapi laki-laki nggak pernah bisa memiliki hati perempuan. Laki-laki itu mahkluk yang paling sederhana, kepentingannya gak jauh-jauh dari ego kejantannya, urusan perut, dan urusan di bawah perut. Laki-laki sudah puas kalo dianggap hebat, sudah puas kalo perutnya kenyang, sudah puas kalo spermanya keluar. Simple kan?"

"Itu mungkin bener Sha," ujar Santo yang merasa tidak setuju tapi tidak punya alasan yang kuat untuk mematahkan argumen Sasha. 
"Tapi Sha, yang gue persoalin bukan itu. Pertanyaan gue kenapa dosa yang dilakukan orangtua tapi malah anaknya yang kena batunya. Kenapa nggak mereka yang kena batunya. Mereka yang seharusnya menangung perbuatannya?" Tanya Santo.
"Gue jadi berpikir, Tuhan kok gak adil sama gue? Bahkan gue berpikir, jangan-jangan Tuhan lepas tanggung jawabnya buat mengasihi semua makhluk. Atau jangan-jangan Tuhan gak ada?" Tambah Santo.

"Ha ha ha ha ha...bisa jadi To," Sasha terbahak-bahak sampai dia harus bangkit dari kasur, duduk di atas tempat tidur. Payudaranya pun berguncang-guncang. "Udah-udah, kejauhan pikiran lu. Stop sampe di situ aja. Gue juga gak tahu jawabannya," ujar Sasha masih dengan tawanya.
"Gue mau mandi, terus makan. Elu masih mau ML gak? Kalo gak gue mandi dulu," ujar Sasha yang melihat Santo hanya diam saja.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar