klik disini

Jumat, 10 Juni 2016

Mamanya Eri 2

“Selamat datang di rumah.”



Mungkin Bu Bambang mencoba mencairkan kekikukanku. Kulihat Pak Bambang, namun dia sama sekali tak terpengaruh. Menoleh pun tidak. 

“Jangan sakit hati ya. Bapak memang gitu. Keras.”

Bu Bambang mencoba menghiburku sambil membimbingku menuju ruang yang kukira akan menjadi kamarku. 

“Tiru Eri, anggap aja Bapak gak ada.”
“Eri juga digituin?” Aku terkejut mendengarnya.
“Iya. Kayak ada jurang pemisah yang makin melebar. Tapi bukan salahnya Eri.”

Aku ingin tahu lagi, tapi tak bertanya lebih jauh. Aku ikuti Bu Bambang naik tangga. Kulihat pergerakan pantatnya, yang sungguh sangat menawan. Kami tiba di kamar yang cukup besar, yang seingatku dulu sering menjadi ruang bermain kalau aku dan Eri selagi kecil, dulu. Bu Bambang menaruh tasku di kasur, sedang aku menaruh ransel di lantai. 

“Gimana?”
“Bagus Bu.”
“Syukurlah kalau kamu suka. Ada tape dan tv juga dvd.”
“Makasih Bu. Makasih banyak.”
“Gak perlu. Lagian ini juga untuk kebaikanmu.”

Aku masih terharu akan keramahannya hingga tak menyadari kalau Bu Bambang mendekatiku dan mencium bibirku. Lantas Bu Bambang keluar kamar, meninggalkanku yang berdiri terpana. Aku serasa tak percaya Bu Bambang mencium bibirku. Aku jadi berharap agar Eri gak pernah pulang.

Aku harus berusaha agar Pak Bambang menyukaiku. Setidaknya, tidak mendiamkanku. Agar aku bisa tinggal lebih lama lagi. Namun ternyata kenyataannya jauh lebih susah. Saat makan malam pun Pak Bambang tak pernah bicara padaku. 

Sesudah itu, sambil membantu Bu Bambang di dapur, kukira beliau langsung ke dapur agar bisa menjauh dari Pak Bambang, Bu Bambang menyuruhku tetap sabar hingga Bapak memulai pembicaraan. 

“Nanti juga berubah kok,” katanya mencoba meyakinkanku. 
“Bapak hanya, gimana ya, kuno.
“Lagian, Ibu dan Eri ingin kamu tinggal di sini. Biar Bapak yang mengalah.”

Aku tak lagi fokus mendengar suaranya karena lututnya menyentuh lututku. Ternyata Pak Bambang ke dapur, meletakan piringnya ke wastafel. Setelah itu kembali pergi. Aku yakin Pak Bambang melihat istrinya menyentukan lutut ke lututku. 

“Bikinin kopi dong.”
“Iya.”

Saat Bu Bambang melewatiku sambil membawa kopi, beliau kembali menyentuhkan lututnya ke lututku, seolah sentuhan lutut itu merupakan cara komunikasi rahasia. Beberapa hari kemudian Bu Bambang selalu berbuat sesuatu agar mendapatkan perhatianku. Selain menyentuhkan lutut, juga memegang lenganku, mengelus kakiku dengan kakinya saat kami duduk di sofa yang sama.

Bu Bambang selalu menyuruhku melakukan sesuatu. Seperti menjemur cucian di halaman. Okelah, aku bisa keluar menjemur saat aku tahu ada Bu Bambang yang mengawasiku. Namun saat Bu Bambang menyuruhku menutup dan atau mengecek pintu pagar, aku begitu gugup, begitu tegang saat kembali di rumah. Aku mencoba menyembunyikan kegugupanku dari Bu Bambang. Bu Bambang selalu terlihat senang kalau aku melakukan apa yang diperintahkannya. Lantas memelukku, seolah memberikanku hadiah, yang tentu kuterima dengan senang hati.

Tapi saat Pak Bambang ada di rumah, aku mencoba menjauhi Bu Bambang. Namun ternyata sulit, karena Bu Bambang mulai memakai pakaian yang, terbilang seksi, seperti pakaian berbahan tipis, setipis sutra, begitu tipisnya bagaikan tiada lagi yang lebih tipis. Atau bahkan pakaian yang ketat, begitu ketatnya hingga seolah tiada lagi yang lebih ketat.

Saat aku dipeluknya, aku menjadi ragu apakah Bu Bambang memakai pakaian dalam di dalam bajunya. Rasa penasaranku makin besar karena kini Bu Bambang memakai baju dengan belahan leher yang lebar. 

Ketakutanku terhadap Pak Bambang tentu tak perlu saat Bu Bambang memelukku saat Pak Bambang tak ada. Namun kenyataanya, saat Pak Bambang ada, Bu Bambang seolah tak peduli dan tetap memelukku. Meski pergerakan Bu Bambang tak terlihat menggoda, namun kenyataannya tetap menggoda. 

Aku takut Pak Bambang jadi marah hingga mengusirku.

Tingkah laku Bu Bambang saat ada Pak Bambang kini makin bervariasi. Bu Bambang duduk di sofa, menyilangkan kaki hingga membuat roknya turun hingga pahanya makin terlihat. Pun duduk sedemikian rupa hingga menyebabkan salahsatu payudaranya menyembul. Kalau aku tak menyadarinya, Bu Bambang akan bergerak dan atau bersuara hingga aku menoleh. 

Suatu ketika, aku sedang dalam keadaan terangsang. Tentu gundukan di celanaku terlihat jelas. Aku capek mencoba menyembunyikan efek dari tingkah laku Bu Bambang, yaitu tonjolan di celanaku, setidaknya dari mata Bu Bambang. 

Suatu ketika, Bu Bambang merebahkan diri di sofa. Kakinya menyentuh sisi sofa hingga terangkat. Pak Bambang di belakang Bu Bambang, sedang aku agak jauh namun posisiku duduk menatap mereka. Bu Bambang mengangkat lututnya hingga membuat roknya jatuh memperlihatkan pahanya. Baru kali ini aku kembali melihat pahanya setelah insiden es cone dulu.

Otomatis kontolku menegang. Pak Bambang mendeham, aku melihatnya sambil merasa berdosa. Aku merasa Pak Bambang mengetahui kelakuan istrinya. 

Suatu ketika, kaki kiri Bu Bambang naik ke sandaran sofa, sedang kaki kanannya jatuh ke lantai, membuat kakinya melebar hingga selangkangannya tersaji untuk mataku. Aku tak begitu fanatik terhadap hal – hal berbau porno, tapi kali ini aku jadi ingin menikmati gundukan daging milik Bu Bambang. 

Setelah beberapa lama, aku putuskan kembali ke kamar. Begitu ada di lantai atas, aku mendengar Bu Bambang bicara dengan Pak Bambang. Entah kenapa aku merasa suara Pak Bambang tak terdengar senang. 

*** 

Aku sedang menonton tv sambil berbaring di kamar, sehabis menumpahkan peju di kamar mandi yang ada di kamarku. Aku mendengar pintuku diketuk, lantas terbuka. Bu Bambang lantas masuk dan duduk di kasur. 

“Mau minum susu gak? Teh atau kopi?”

Aku menggelengkan kepalaku. Bu Bambang kini memakai daster tidurnya. 

“Ali lupa gak cium sebelum tidur dulu sama Ibu.”
“Apa... Tapi...”
“Atau Ali gak mau ya? Ya gak apa – apa kalau gak mau.”
“Mau bu.”
“Kalau gitu cium ibu dong.”

Aku bangkit dan menekankan bibirku ke bibir Bu Bambang, sekilas. Saat aku kembali merebahkan diri, Bu Bambang ikut rebahan hingga bibirnya kembali menyentuh bibirku. Tekanan bibirnya lebih lama dari yang tadi. Lantas dia menarik kepalanya.

“Gitu saja?”
“E... ng....”

Bu Bambang bangkit lantas berdiri.

“Selamat tidur Li.”
“Sama – sama Bu.”
“Di dalam kenyataan, kamu harus berjuang untuk mendapat apa yang kamu inginkan. Kalau gagal, coba terus hingga berhasil.”

Bu Bambang melangkah hingga keluar dari kamarku. Tipisnya daster Bu Bambang membuatku yakin kalau beliat tak memakai apa – apa lagi di dalamnya. Aku mencoba berpikir mengenai makna kenyataan hidup, yang Bu Bambang katakan. Namun karena lelah, aku pun tertidur.
 Esoknya Bu Bambang memakai kaos berkerah lebar dan rok yang pendek. Belahan dadanya terlihat jelas. Pak Bambang terlihat murung, lantas cepat keluar dari rumah tanpa bicara. Bu Bambang lantas ke halaman belakang, duduk santai di kursi malas namun aku tetap di dalam rumah. Aku takut Pak Bambang kembali. 

Setelah sejam atau lebih Pak Bambang tak kembali. Aku keluar, ke halaman belakang dan duduk di sambil Bu Bambang yang lagi membaca. Menyadari aku yang duduk di sebelahnya, Bu Bambang menaruh bukunya dan mulai mengoles kakinya. Entah dengan hand body atau apa aku tak tahu. 

Apa yang Bu Bambang lakukan sungguh erotis di mataku. Terlebih aku menyadari Bu Bambang melakukannya untukku. 

Aku ingin menyentuhnya.
Aku ingin mengoleskan lotion itu pada kakinya.
Tapi keberanianku tak ada. 

Selesai dengan kaki, kini Bu Bambang mengoleskannya di tangan. Setelah tangan, Bu Bambang memasukan tangan ke dalam baju dan mengoles tubuhnya yang terbalut kaos. Bu Bambang terlihat tak peduli pada satu – satunya orang yang memperhatikannya. 

Bu Bambang mengejutkanku saat kakinya menyentuh kakiku lantas menatapku. Meski aku tak memiliki keberanian, namun tatapanku tak beranjak dari matanya.

“Ibu lapar nih. Mau makan gak?”

Aku mengangguk.

Tak ada lagi godaan dari Bu Bambang hingga malam saat Bu Bambang kembali melakukan aksinya di sofa. Pak Bambang terlihat tak senang tapi saat aku beranjak ke kamar, ternyata tak ada obrolan sama sekali. 

Malam ini, saat Bu Bambang membungkuk mencium selamat malamku, kucium agak lama, bahkan kuberanikan diri memengang bahunya saat Bu Bambang mencoba bangkit. Efeknya tentu dadaku merasakan tekanan dari payudara Bu Bambang. 

“Ali suka gak mencium Ibu?”
“Iya bu.”
“Ali suka gak liat kaki Ibu?”
“Iya.”
“Papanya Eri gak suka lho.”
“Ali tahu.”
“Tapi Ali tetep liat?”
“Habisnya gimana lagi.”
“Gak apa – apa kok. Lagian ibu juga gak keberatan.”
“Benarkah?”
“Iya. Ibu jadi merasa cantik dan senang.”

Bu Bambang kembali membungkuk dan menciumku. Kali ini tekanan payudaranya makin meningkat di dadaku.

“Ali senang liat kaki Ibu?”
“Iya.”
“Tapi gakkan Ibu kasih liat lagi kecuali Ali melakukan sesuatu untuk Ibu.”
“Melakukan apa Bu?”
“Beliin ibu sesuatu ke minimarket.”
“Sendiri?”
“Iya, sendiri. Mini market yang deket rumah. Ali mau kan, demi Ibu?”

Bibir Bu Bambang kembali menyentuh bibirku. 

“Iya,” jawabku lirih.
“Bagus,” katanya terdengar senang, lantas menciumku agak lama lagi.Esoknya aku ke minimarket, membeli dua buah susu uht yang dua liter. Aku tak bilang ke Bu Bambang kalau pulangnya aku berlari dengan cepat, begitu cepatnya bagaikan tiada lagi yang lebih cepat. Bu Bambang juga tak bertanya kenapa aku ngos – ngosan kecapaian saat tiba di rumah. 

Aku kecewa melihat kaki Bu Bambang yang biasanya memakai rok pendek, kini memakai rok yang agak panjang. Bu Bambang menyadari tatapanku yang sedang melihat kakinya. 

“Nanti malam Li, setelah Bapak pulang.”

Aku kecewa.

“Sabar. Masa gak bisa nunggu beberapa jam sih.”

Kekecewaanku tak langsung sirna. Aku telah belanja, sendiri. Aku ingin hadiahku. 

“Kamu mau melihatnya sedikit?”

Aku mengangguk. 

Bu Bambang mengangkat sedikit roknya. Mataku menatap. 

“Ali suka kaki ibu”
“Iya.”

Roknya ditarik makin ke atas. 

“Ali bener – bener suka?”
“Iya, bener – bener suka.”

Makin ke atas.

“Sesuka itu?”

Aku lupa mengiyakan karena ujung roknya makin naik hingga mulai terlihat cdnya. Kali ini warnanya kuning. Roknya makin ke atas hingga sampai ke perutnya. 

“Ali suka celana dalam ibu gak?”

Aku hanya sanggup mengangguk.

“Ali ingin ibu pake ini malam nanti atau ingin yang pink?”

“Iya.”

Aku tak percaya Bu Bambang tahu kalau aku melihat cdnya waktu di mobil dulu. 

“Meski Bapak duduk di belakang Ibu?”
“Iya.”
“Baik kalau kamu memang suka.”

Bu Bambang melepas roknya lantas melangkah mendekatiku. Bu Bambang menciumku.

“Sebaiknya kamu kembali ke kamar hingga nanti Bapak datang.”

Aku tak setuju, namun tetap melakukan apa katanya. 

*** 

Malamnya Bu Bambang menepati janjinya. Kaki kanannya digerakan seolah mengelus paha kaki kirinya. Saat kedua pahanya dilebarkan, aku seolah bisa melihat cd kuningnya. Lantas Bu Bambang menatapku. Bola matanya digerakan ke kiri seolah bertanya apakah suaminya melihatnya.

Aku menggeleng pertanda tidak.

Tangannya meraih ujung rok dan menariknya hingga ke pinggang. Ternyata Bu Bambang tak memakai cd sama sekali. 

Selanjutnya, saat Bu Bambang ke kamar, aku tak bisa menyembunyikan ereksiku dari dalam celana. Saat Bu Bambang melihatnya, aku merasa seolah makin mengeras. 

“Apa ibu membuatmu senikmat itu?”
“Iya.”
“Bagus, karena esok Ibu ingin kamu melakukan sesuatu untuk Ibu.”
“Belanja lagi?”
“Iya.”

Bu Bambang membungkuk. Daster yang dipakainya kali ini memiliki rok yang lebih pendek. Dan susunya terlihat lebih dari belahan lehernya. 

“Kali ini ibu ingin kamu beli sepatu lari untuk Ali. Biar ibu nanti kasih uangnya.”
“Sepatu lari, dari mana?”
“Dari mall.”

Ketakutan langsung menyelimutiku membuatku merinding. Bu Bambang makin mendekatkan diri kepadaku hingga payudaranya menyentuh dadaku.

“Ali, sadar.”
“Mall kan lumayan jauh. Ali gak ...”
“Gak jauh – jauh amat kok. Ali pingin tahu gak hangatnya tubuh Ibu karena apa yang Ali lakukan?”

Aku tak bisa bicara, tapi tatapanku seolah menyiratkan suatu jawaban. Bu Bambang merebahkan tubuh diatas tubuhku seutuhnya. Aku bisa merasakan hangatnya tubuh Bu Bambang, meski kami memakai pakaian. 

“Gimana, hangat gak?”
“Iya.”

Aku mendadak lupa tentang mall. Selangkangannya menekan selangkanganku. Bibirnya berada di telingaku.

“Ali mau kan ke mall?” bisik.

Kontolku berdenyut. 

“Boleh gak Ali merasakan hangatnya tubuh Ibu tiap kita berciuman selamat tidur?”

Bu Bambang tertawa.

“Pinter Li. Kamu mesti bilang, meminta saat menginginkan sesuatu. Meski tak bisa kamu dapatkan.”
“Jadi ali gak boleh?”
“Ibu gak bilang gitu.”
“Biasanya manusia tak selalu mendapat apa yang dia inginkan. Jadi Ali mesti pintar memilih waktu.
“Seperti sekarang, saat Ali punya sesuatu untuk ditukar. Kamu mesti ke mall dulu.”
“Baiklah.”

kupegang bahu Bu Bambang agar Bu Bambang tak bisa bangkit. Namun ternyata Bu Bambang malah makin menekankan tubuhnya. 

“Cium Ibu,” bisiknya.

Saat aku mencium beliau, tanganku beralih dari bahunya memasuki daster hingga bagian pinggir payudaranya. Tentu aku tak bisa meremas payudaranya karena tertekan ke dadaku. Aku pun tak mencobanya. Mungkin kali yang lain. 

Sekilas, tapi melintas dengan goresan mendalam, aku penasaran kenapa mamanya Eri bertindak seperti ini? Sebelumnya beliau tak pernah seperti ini. Setidaknya, aku tak pernah ingat mamanya Eri bertindak seperti ini.

Lantas mulut Bu Bambang beralih dari sebelah kupingku ke mulutku. Rasa penasaranku pun hilang.elayan toko olahraga mengira aku aneh. Begitu masuk, kuberikan uang yang Bu Bambang kasih kepadanya.

“Saya mau beli sepatu lari.”

Aku duduk dan dia langsung melihat kakiku, mungkin mencoba menakar ukurannya. Aku melihat pintu toko.

“Lari,” batinku berteriak.

Tapi bagian lain dari diriku, bagian yang menjadi dominan akibat perlakuan Bu Bambang seolah mencegahku. 

“Kamu telah sejauh ini, kalau lari, sia – sialah sudah. Kamu bisa, pikirkan hadiah yang akan kamu terima dari Bu Bambang, yang menunggu kamu di rumah,” batinku lagi.

Kubayangakan Bu Bambang berbaring di sofa. Kakinya terpampang, haus akan tatapanku meski ada suaminya. Jiwaku seolah lepas dari tubuh, melayang mendekati Bu Bambang hingga bisa melihat cdnya dengan begitu jelas. Bu Bambang bicara, tapi aku tak begitu jelas mendengarnya. Jangan gugup Li, Kamu pasti bisa. Lakukanlah demi Ibu.

“Coba yang ini pak.”

Lamunanku buyar lantas melihat pelayan.

“Iya. Biar saya pakai.”
“Baik, biar saya masukan yang ini.”

Pelayan lantas mengambil sepatuku.

“Tak perlu, biarkan saja.”
“Sayang lho pak, masih bagus.”
“Saya hanya bercanda,” aku mencoba tertawa.

Tentu orang akan curiga kalau aku meninggalkan sepatuku di toko. Atau memberikan seluruh uang kembaliannya untuk pelayan, yang hampir aku lakukan. Aku menanti dengan sangat cemas hingga pelayan menaruh sepatu lamaku ke dus baru dan memasukannya ke kantong. Lantas uang kembaliannya dia berikan padaku. 

Aku tak lari keluar toko. Bahkan aku berjalan biasa hingga keluar dari mall. Kenyataanya , aku berjalan hingga ke rumah. Kepalaku dipenuhi pikiran – pikiran tentang Bu Bambang. Aku melakukan ini untuk Bu Bambang, bahkan aku akan melakukan apa saja demi Bu Bambang. 

Aku kecewa melihat mobil sudah ada, tanda kalau Pak Bambang sudah pulang. Aku melangkah lunglai ke rumah. Namun sebelum masuk, aku mendengar Bu Bambang bercakap dengan Pak Bambang. Aku penasaran dengan apa yang mereka percakapkan. Aku pun tak langsung masuk, namun mencoba mencuri dengar. 

“Mama melangkah terlalu jauh.”
“Mama tahu apa yang mama lakukan.”
“Benarkah? Mama menggodanya. Bahkan membiarkannya melihat kaki mama. Ya tuhan.”
“Mama gak mempertontonkan kaki. Mama hanya berbaring santai.”
“Mah.”
“Baik, mama memang memperlihatkan kaki mama. Terus kenapa? Papa tahu gak dia kemarin ke minimarket beli susu. Dan papa tahu dimana dia sekarang?”
“Tentu tidak mah”
“Mama kasih tahu. Dia ke mall pergi beli sepatu lari.”

Suara Bu Bambang terdengar seperti bangga.

“Mama suruh dia ke mall sendirian? Ya tuhan, apa yang mama lakukan?”
“Dia akan baik – baik saja.”
“Enggak mah. Apa yang mama suruh terlalu dini. Terlalu cepat.”
“Jangan papa hancurkan apa yang sudah mama lakukan.”
“Dia gakkan bisa mah.”

Tangis. Aku mendengar suara tangis. Tangis Pak Bambang.
Awalnya aku yakin Bu Bambang yang menangis, namun setelah mendengar lebih teliti, suara tangis itu adalah suara Pak Bambang.
Aku terkejut Pak Bambang menangis karena kepeduliannya padaku.

“Dia bisa. Dan dia melakukannya demi mama.”
“Kenapa? Apa mama kira mempertontonkan kaki bakal...”
“Diam. Papa udah janji gakkan membicarakan itu.”

Kuputuskan untuk masuk. Kubuka pintu dan suara – suara itu langsung hilang. Mereka menatapku. 
Bu Bambang melihatku, biasa saja. Tanpa kesan apapun.
Pak Bambang melihatku, terkejut seolah terpukau.

Aku penasaran dengan tatapan Pak Bambang. Pergi ke mall beli sepatu menurutku bukan suatu yang wah. Bahkan, malam nanti aku akan bertanya ke istrinya apa lagi yang dia mau aku lakukan. 

Kalau soal pertunjukan kaki saja Pak Bambang marah, bisa jadi Pak Bambang kena serangan jantung kalau melihat istrinya menindih tubuhku. 

Tapi kali ini, tak terlihat sedikitpun amarah di mata Pak Bambang. Bahkan, Pak Bambang terlihat senang membuatku terlihat bersalah.

*** 

Lebih dari semenit kami berciuman. Tanganku masuk ke belahan leher bajunya lantas mengelus punggungnya.

Kusadari Bu Bambang mencoba membantu teman anaknya untuk menguasai rasa takut.
Rasa takut kesendirian.
Rasa takut sendiri di luar, di tempat yang ramai. 
Mencoba membantu dengan cara menggodaku.

Kuakui bantuannya berhasil. Dan aku ingin dibantu lebih jauh lagi. Aku mulai berpikir untuk minta membantunya lagi belanja. Namun kusadari lebih baik tidak meminta karena bisa jadi Bu Bambang berpikir kalau aku gak lagi takut dan tak perlu dibantu lagi. 

Bu Bambang menekan lutut ke kasur mencoba bangkit saat merasakan kontolku yang makin menegang. 

“Ali benar – benar takut saat di sana.”

Usapan tanganku di punggungnya makin ke bawah dan menekan agar selangkangannya kembali menekan selangkanganku. 

“Tapi Ali bisa menguasainya kan,” suaranya terdengar bangga.
“Ali hampir lari, Ali hampir kabur.”
“Benarkah?”
“Iya.”

Bu Bambang terlihat khawatir.
Kuangkat selangkanganku sambil mencoba menekan punggung Bu Bambang. 

“Tapi Ali melawan keinginan untuk kabur kan?”
“Iya, Ali mencoba memikirkan Ibu, seperti sekarang. Itulah yang membuat Ali berani.”
“Nah, Ali bisa kan.”
“Iya, karena Bu Bambang.”

Tekanan tanganku kini membuat selangkangan Bu Bambang kembali menekan selangkanganku.

“Ali gakkan bisa melakukannya kalau bukan demi Bu Bambang.”
“Li, Bapak mulai curiga. Ibu mestinya gak membiarkan permainan kita lebih jauh lagi.”
“Ali gakkan bisa melakukannya kalau tanpa Ibu. Ali mau pergi lagi besok, asal Ibu janji mau terus bantu Ali.”
“Ibu gak bisa bantu kamu selamanya. Hanya sampai kamu bisa melakukannya dengan kemauan sendiri.”
“Makasih Bu.”

Kugoyangkan pantatku dan kembali bicara agar Bu Bambang tak menyadarinya. 

“Pak Bambang sepertinya mulai menyukai Ali.”
“Tentu saja.”

Tangan Bu Bambang kini memegang wajahku. Kucium Bu Bambang.

Untuk kali pertama, kujulurkan lidah meski aku tahu Bu Bambang akan menolaknya. 
Ternyata tidak. 
Lidahku menyentuh bibirnya. 
Lidahku melewati bibirnya.
 Gak ada yang lupa?”

Bu Bambang melihat kosmetik yang berserakan di meja. Kosmetik yang baru saja aku beli. 

“Dari beberapa toko berbeda kan?”

Berbeda dari hari kemarin, kali ini Bu Bambang terlihat terpukau. 

Kuusapkan lutuku ke belakang lututnya. Lantas kutekan selangkanganku ke pantatnya. Wajah Bu Bambang menatap ke arah suaminya sedang duduk. 

Aku tak peduli, kugesekan selangkanganku dan kucium pipinya.

“Jangan Li”
“Sedikit hadiah dong.”

Kuputar tubuh Bu Bambang lantas kucium.

“Ada Bapak.”
“Biar saja.”

Kucium lagi Bu Bambang. Kumainkan lidah. Bu Bambang mencoba berontak. Kupegang rambutnya hingga kepalanya diam. Setelah beberapa detik, Bu Bambang mulai tenang. 
Tangan kananku kini meremas susu kirinya. Bu Bambang tak protes.

Saat Bu Bambang berbalik untuk menghitung lagi kosmetiknya, Pak Bambang datang. 

“Apalagi ini? Sukses belanja lagi? Hore.”
“Iya. Ali beli ini. Tapi dari beberapa toko berbeda.”
“Benarkah? Menakjubkan. Bapak udah bilang ke mamamu kalau ini hanya sementara.”

Bu Bambang mendadak menatap, memelototi suaminya. 

“Maksud bapak, rasa takut di luar rumah, eh, tapi kamu benar – benar sembuh.”
“Iya. Ali rasa Ali bisa melakukannya dengan sedikit motivasi.”

Aku menyadari kecanggungan Pak Bambang karena menyinggung mamaku. Pak Bambang tentu tahu kalau orang tuaku telah meningggal. Reaksi Bu Bambang menyiratkan seolah dia khawatir kalau aku berbicara soal orang tuaku. 

Pak Bambang kini mencoba mengganti topik pembicaraan. 

“Memang luar biasa perkembangannya. Tapi kita mesti terus mencoba.”

Setelah Pak Bambang pergi, Bu Bambang kembali bicara, pelan.

“Jangan dengar omongannya. Kadang dia bicara tanpa dipikir dulu.”

Kurasa Bu Bambang terlalu khawatir padaku. Orang tuaku telah lama meninggal. Aku bahkan tak bisa mengingat wajah mereka. Bahkan, aku tak bisa mengingat mereka. Apa mungkin Bu Bambang memang sepantasnya khawatir? 
Mungkin ada sesuatu yang menyebabkanku tak bisa mengingat orangtuaku. Aku mulai khawatir. Tapi tak kutunjukan pada wajahku.

“Iya Bu, Ali juga gak memikirkannya.” 

Malamnya, seperti biasa, Bu Bambang mempertunjukan kebolehannya. Aku tak lagi khawatir pada Pak Bambang semenjak beliau menunjukan kekagumannya atas diriku. Dan lagi, dari pembicaraan mereka yang aku kuping dari luar rumah, Pak Bambang menyerahkan sepenuhnya aksi Bu Bambang untuk membantuku mengatasi ketakutanku. 

Aku merasa Pak Bambang tak lagi keberatan atas aksi istrinya. Atas aksi istrinya yang diketahuinya. Tentu Pak Bambang akan marah jika tahu aksi istrinya yang terjadi diluar sepengetahuannya. 

Kini Pak Bambang sedang nonton berita. Saat iklan, Pak Bambang beranjak ke kamar mandi. Aku beranikan diri menghampiri Bu Bambang untuk melihat tubuhnya dari dekat. Bu Bambang tak mau repot – repot menutupi tubuhnya. 

Aku makin berani, kulebarkan selangkangannya hingga terlihatlah cd birunya. Bu Bambang tak terlihat panik karena memang belum terdengar siraman air dari kamar mandi. 

Tentu aku belum menyadari kalau Bu Bambang tak suka dipaksa atau dibuat terburu – buru. Apalagi beliau tak berusaha menutup pahanya. Tapi matanya menatap ke arah lain, menunjukan ketidaksukaannya. 

Tatapan Bu Bambang itu menyadariku kalau Bu Bambang tak suka paksaan.

“Maaf bu. Ali gak bisa bersabar. Aku terlalu antusias menunggu esok hari.”

Tatapan Bu Bambang melunak.

“Masih butuh bantuan ibu ya?”
“Selamanya bu. Ibu nanti mau ke kamar Ali?”
“Emang Ali butuh Ibu?”
“Iya.”
“Kalau gitu Ibu akan datang.”

Terdengar suara siraman air.

*** 

Lampu kamarku mati. Satu – satunya sumber cahaya berasal dari tv, yang suaranya ku-mute-kan, alias tiada suara. Bu Bambang lantas masuk dan menciumku. 

“Ibu gak bisa lama, Bapak belum tidur.”

Aku tak membantahnya. Kuangkat kepala dan menciumnya. Tangan kananku memegang kepalanya sedang tangan kiriku memegang bahunya. 

“Mungkin untuk satu ciuman saja,” lirihnya.

Kutekan tanganku hingga tubuh Bu Bambang menindihku. Kucium. 

“Kamu nakal ya menahan Ibu,” katanya sambil telunjuknya mengelus dahiku. “Bapak pasti bertanya – tanya kenapa Ibu lama sekali.”
“Benarkah?”

Kembali kucium bibir Bu Bambang. Rupanya Bu Bambang mulai sadar akan tiadanya selimut yang memisahkan tubuhku dan tubuhnya.

“Selimutnya kemana?”
“Gerah bu, jadi gak pake selimut.”

Tanganku memeluknya erat agar tak bangkit.

“Tapi kita gak boleh begini.”
“Begini gimana?”
“Tanpa selimut.”
“Kenapa? Lagian bedanya apa?”
“Gak sopan.”
“Kenapa? Kita kan berpakaian, gak telanjang.”

Tak kusinggung tentang diriku yang hanyha memakai celana pendek. Kucoba mencium tapi bibirnya menolak.

“Entahlah, ibu rasa terlalu.”
“Tenang aja.”

Kutahan kepalanya dan kuhujani bibirnya dengan ciumanku. Awalnya Bu Bambang menolak, namun akhirnya pasrah.

“Pak Bambang bakal penasaran Ibu ke mana. Ibu mesti pergi.”

Kuelus punggung Bu Bambang dengan tanganku.
Kuelus bibir Bu Bambang dengan bibirku.

“Ibu mesti pergi.”

Aku tahu Bu Bambang tak ingin beranjak.

“Bapak kemungkinan ketiduran.”
“Kamu yakin?”
“Apa bapak lagi baca?”

Kuarahan tanganku ke pantatnya. Kuelus dan kuremas. Tiada penolakan. 

“Iya.”
“Kan Ibu bilang bapak selalu langsung ketiduran kalau lagi baca di kasur.”
“Memang.”
“Jadi Ibu gak usah terburu – buru.”
“Mungkin.”

Kuremas pantatnya dengan kedua tanganku dan kucoba melebarkannya.

“Tanganmu lagi ngapain?”
“Lagi meriksa hadiah dong.”
“Hadiah?”
“Cd biru ini.”
“Kamu mesti belanja ke tempat spesial kalau mau hadiah itu. Besok Ibu beri hadiahnya.”

Bu Bambang menggodaku, namun tak mencoba menyingkirkan tanganku. 

“Sekarang.”
“Sekarang?”
“Ali ingin hadiahnya sekarang biar esok bisa beraksi lagi.”
“Ibu gak bisa ngasih sekarang. Kan lagi Ibu pakai.”
“Kan Ibu pake daster, tinggal lepas saja.”
“Ibu gak bisa tidur tanpa cd. Ntar Bapak menyadarinya.”
“Bapak kan tidur.”
“Siapa tahu belum.”
“Bapak gakkan menyadarinya.”

Kucium Bu Bambang. Tangan kiriku mengelus rambutnya sedang tangan kananku tetap di pantatnya. Lantas aku mulai menarik ujung dasternya.

“Mau ngapain kamu?”
“Siap – siap ambil cd.”
“Ibu gak bilang boleh.”

Aku tak bicara namun tetap menarik ujung dasternya. 

“Jangan sekarang. Ibu lepas saat ibu pergi.”
“Jangan, sekarang aja.”
“Ali, Ibu gak bisa..”
“Bisa, Ibu bisa.”

Kuangkat hingga ujung roknya mencapai pinggangnya. Lantas Bu Bambang mengangkat pinggul dan menarik cdnya. 

“Biar sama Ali bu.”

Bu Bambang diam membiarkanku menarik cdnya hingga ke lutut. Lantai kakiku menariknya hingga lepas. Kami kembali beciuman. Kali ini tanganku mengelus pantatnya langsung tanpa terbungkus cd. Kulebarkan pantatnya hingga beberapa kali karena tiada penolakan. 

Bu Bambang mulai menggoyangkan selangkangannya kepadaku. Celanaku mulai basah. Kupikir aku orgasme, lantas kusadari aku belum orgasme. 

Bu Bambang melepas ciumannya lantas menekan memeknya ke celanaku sambil terus menggoyangkannya. Tangannya mencengkram bahuku sedang kepalanya berada di samping kepalaku. 

Aku orgasme. 

Beberapa detik kemudian, Bu Bambang bangkit. Bagian rok depan dasternya terlihat basah. 

“Duh,” kata Bu Bambang lantas melepas dasternya hingga telanjang. “Sebaiknya Bapak udah tidur lelap.” Bu Bambang memegang dasternya, lantas mengambil cdnya dan keluar dari kamarku.Besoknya Bu Bambang menyuruhku membeli tiket untuk pertandingan bola beberapa hari kedepan. Begitu tiba di lokasi penjualan tiket, aku terkejut karena begitu banyak orang mengantri, begitu banyak orang di satu tempat, begitu banyak orang di sekitarku.

Aku tak tahan. Aku langsung berlari ke rumah. 

“Wow, cepat juga ya.”

Bu Bambang bicara dari dapur begitu mendengar aku pulang.

Aku langsung ke kamar. Kujatuhkan diri ke kasur. Rasanya aku ingin menangis sejadi – jadinya. Meski tidak menangis, mungkin terlihat seperti menangis. Kayak anak kecil saja, bahkan tak sanggup beli tiket. Kuhentakkan kepala ke kasur beberapa kali. 

Kutarik nafas dalam – dalam. Mencoba mengusir rasa malu akibat kegagalanku. Apa yang Bu Bambang pikirkan kini? Pintu diketuk, lantas terbuka.

“Kamu gak apa – apa Li?”
“Iya. Entar juga baikan kok.”

Aku sengaja membelakangi pintu, agar gak bisa dilihat Bu Bambang. 

“Gak usah dipikirkan. Biar nanti Bapak yang beli tiketnya sekalian pulang kerja.”
“Yah, bukan kejutan lagi dong.”
“Tetap saja, Bapak sudah senang kamu ngajak Bapak nonton bola.”
“Apa iya Ali sanggup nonton, sedang beli tiket saja Ali gak sanggup. Pokoknya biar Ali coba lagi beli tiket.”
“Iya. Ibu ada di rumah kok kalau Ali butuh.”

Sepuluh menit kemudian aku keluar kamar. Aku ingin membuktikan pada Bapak dan Ibu Bambang kalau aku bisa. Aku bukanlah anak kecil yang mudah ditakuti. 

Kudapati Bu Bambang di dapur. Lantas kusadari beliau di sana bukan untuk masak, namun menungguku. Kudekati lantas Bu Bambang memelukku. Rasanya aku seperti termotivasi lagi. 

Aku berlutut di pelukannya. Kepalaku menekan perutnya. Tangannya mengelus rambutku.

“Sshhh...”

Aku menangis. Tanganku gemetaran. Kulihat keatas. Aku terkejut melihat ekspresinya yang menyatakan ketidakberdayaan.

Kenapa Bu Bambang terlihat tidak berdaya? Bukankah yang yang memiliki ketakutan berlebih. Jangan – jangan Bu Bambang begitu peduli padaku. Tak mampu menolong orang yang sangat dipedulikannya mungkin membuat Bu Bambang tak berdaya.

Kupegang roknya lantas ku angkat.

“Jangan Li, Bapak bentar lagi pulang.”
“Ali ingin liat hadiah Ali biar bisa beli tiket.”
“Udah telat Li. Besok lagi aja.”
“Enggak.”

Kuangkat lebih tinggi lagi roknya hingga terpampanglah cd Bu Bambang. Kuserahkan rok ke tangannya.

“Pegang Bu.”

Kulihat cd Bu Bambang. 

“Ali.”
“Ssshhh...”

Bu Bambang kini menyandarkan tubuh ke meja. Roknya tetap terangkat. Tanganku memegang pantatnya, hidungku mengelus selangkangannya sambil menghirupnya. 
Tangan Bu Bambang kini mengelus rambutku. Kucium selangkangannya dengan mulutku. Kujulurkan lidah lantas kusapu. Kukakukan lidah dan kudorong membuat Bu Bambang mengerang. 

Kujilati lagi layaknya menjilati es cone dulu. Jilatanku makin cepat. Erangan Bu Bambang makin tak jelas. 

“Sudah Li, sudah.”

Bu Bambang mencoba menutup pahanya, namun tanganku menahannya. Hingga akhirnya kupelorotkan cdnya.

Terlihatlah kini memeknya. Kujulurkan lantas kujilati memeknya. Tangan Bu Bambang makin meremas kepalaku, namun bukannya ditarik, malah ditekannya. Kumasukan lidahku sedalam mungkin ke memeknya, lantas kugerakan keluarmasuk. 
Kuhentikan dorongan lidahku, kuganti dengan sapuan dari bawah ke atas. 

Kini kucoba memasukan satu jari ke memeknya. Erangan Bu Bambang makin terdengar jelas.
Kukocok jariku. Saat aku merasa Bu Bambang akan orgasme, kucabut jariku lantas kusapu lagi memeknya dengan lidahku. 

“Ohhhhhhh....”

Bu Bambang menjerit, pahanya menjepi kepalaku. 
Kepalaku mulai bisa bergerak lagi saat pahanya tak lagi tegang. Namun tanganku tak lepas dari pantatnya hingga Bu Bambang tak mengejang lagi. 

Kulepas cd yang masih menempel di kakinya, lantas berdiri. Rok daster Bu Bambang kembali melorot. Napasnya masih tak menentu namun matanya terlihat senang. Tak terlihat sorot mata kecewa dan atau marah. Kumasukan cdnya ke saku celanaku. 

“Ali pasti bisa kali ini.”
“Tunggu Li.”

Aku berbalik. Bu Bambang meraih tisu dan mengelap wajahku. 

“Beli juga buat Ibu. Ibu juga ingin nonton.”Ternyata tak begitu sulit. Pas pertama, ketakutan begitu mencengkramku. Tapi, setelah termotivasi dengan baik, akhirnya aku bisa menguasai rasa takutku, membeli tiga tiket. Bahkat setelah itu, aku beli es kelapa muda dan meminumnya dengan santai. 

Aku jadi heran, kenapa rasa – rasanya selalu begitu menakutkan berada di keramaian. Kini aku pulang dengan santai, tak berlari lagi. 

*** 

Malamnya, seperti biasa kami makan bersama.

“Ali tadi pergi lagi lho.”
“Iya?”

Pak Bambang menatapku, lantas menatap istrinya, seolah meminta penjelasan.

“Dia beli sesuatu lagi.”
“Beli apa lagi sih?”
“Coba kasih liat Bapak, Li.”

Kuraih tiket dari saku, lantas kutaruh di depan Pak Bambang. Pak Bambang meraihnya lantas membacanya.

“Tiket? Kamu beli tiket bola?
“Kamu yakin Li?” tatapnya padaku. Lantas Pak Bambang menatap istrinya. “Apa dia siap?”
“Dia gak kenapa – napa kan.”

Pak Bambang kembali menatapku.

“Apa kamu mau Li?”
“Iya pak. Ibu bilang gakkan terjadi apa – apa kok.”
“Baguslah kalau gitu. Bapak senang kita bakal nonton bola.”

Tangan kanan Pak Bambang lantas memengang tangan kiriku, sedang tangan kiri Pak Bambang memegang tangan kanan istrinya.

“Kita nonton besok.”

Lantas kami tertawa. 

*** 

Malamnya tak ada acara Bu Bambang mempertontonkan kaki. Yang ada malah kami bertiga nonton tv bersama sambil ngobrol. Aku merasa bahagia, aku merasa menjadi bagian keluarga ini. Eri sungguh beruntung lahir di keluarga ini. Aku harap Pak Bambang tahu apa yang memotivasiku dan tak merasa keberatan. 

Kucoba bayangkan Eri berada di posisiku dan mendapat perlakuan khusus dari ibunya. Apakah ayahnya akan marah? Apakah mereka bisa berbagi satu wanita cantik ini bersama? 

*** 

Berbaring di kasur, sambil nunggu Bu Bambang aku mencoba berandai – andai. Andai orang tuaku belum meninggal, apakah kehidupanku akan seperti barusan?
Namun anehnya aku tak bisa membayangkannya.

Aku jadi merinding karena tak bisa membayangkan kehidupanku bersama orangtuaku, andai belum meninggal. 

Aku bahkan tak bisa menggambarkan secara jelas wujud dan atau wajah kedua orangtuaku. Aku tak ingat suara orangtuaku. 

Ada apa denganku? Bukankah belum terlalu lama orangtuaku meninggal. Apakah kematian orangtuaku begitu membuatku trauma?

Akhirnya kuputuskan untuk tak memikirkan orangtuaku. 

Mendadak muncul suatu bayangan saat aku disuruh beli sepatu. Saat aku duduk, aku melihat di luar toko ada seorang ibu yang lagi menyusui. Namun anehnya aku merasa ganjil.

Sang bayi berbaring di roda bayi. Yang menyusu malah anak yang lebih besar, kutaksir usianya tiga tahun. Karena dia menyusu sambil berdiri. 

Rupanya sang ibu sadar sedang diperhatikan. Dia lantas menatapku. Wajahnya mendadak terlihat seperti malu karena ada yang menyadari kalau dia menyusui anak yang bukan bayi. 

Kenapa pikiran ini mendadak muncul?

Bu Bambang masuk, pikiranku tentang orangtua serta adegan di mall mendadak lenyap. Bu Bambang naik ke kasur, namun tak berbaring, melainkan berlutut. 

“Bapak begitu senang kita akan pergi nonton. Ibu bilang mau bikin susu dulu, lantas Bapak nyuruh Ibu berterimakasih sama kamu andai kamu belum tidur.”
“Bapak ternyata baik ya orangnya.”
“Iya, tapi Ibu rasa bapak sedang bahagia, begitu bahagianya hingga sepertinya bakal sulit tidur.”
“Jadi, Ibu gak bisa lama?”
“Iya. Tapi kamu berhak mendapat hadiah atas keberanian kamu.”
“Saat beli sepatu, Ali liat ibu – ibu nyusuin anaknya.”
“Oh, terus kenapa kamu pikirin?”
“Yang nyusu bukan bayinya”
“Tentu bayinya. Masa dia nyusu bayi orang lain.”
“Maksud Ali, bayi ada di keranjang Bayi, ibu itu nyusuin anak yang lebih besar.”

Tatapan Bu Bambang mendadak menyiratkan sesuatu.

“Berapa tahun?”
“Entahlah. Tiga atau empat tahun mungkin.”
“Terus kenapa? Apa terasa aneh?”
“Iya.”
“Apa mamamu juga masih nyusuin kamu saat udah gede?”

Aku tak menyadari itu sebelumnya. Tapi anehnya aku tak memiliki ingatan tentang hal itu sama sekali. 

“Mungkin. Entahlah.”
“Menurutmu salah ya kalau seorang ibu mencoba menenangkan anaknya?”
“Entahlah. Iya mungkin.”
“Gak ada yang salah jika seorang ibu menenangkan anaknya.”

Bu Bambang lantas mengeluarkan satu susu dari dari lubang kerahnya.

“Nih, coba. Biar kamu tahu sebagaimana menenangkannya.”

Lantas Bu Bambang merendahkan tubuhnya hingga susunya berada tepat di depan mulutku. Perasaanku sungguh luar biasa. Tangannya memegang kepalaku, menekannya. Tanganku masuk ke dalam dasternya mencoba meraih susu yang satunya lagi.

“Ali suka gak?”

Aku menggangguk sambil mencoba bersuara.

“Kamu bisa ingat gak rasanya saat dulu kamu nyusu sama ibumu?”

Aku menggelengkan kepala tanpa melepaskan mulut dari susunya. 

“Ibu yakin kamu menyukainya. Bahkan setelah gede, bukan bayi lagi.”

Aku menggelengkan kepala, namun ada sesuatu pada suaranya yang meyakinkanku kalau Bu Bambang benar. Bagaimana Bu Bambang bisa mengetahuinya? Ibuku dan Bu Bambang bukanlah teman dekat. Jangan – jangan Bu Bambang juga menyusui Eri saat Eri sudah gede, gak lagi bayi. Aku jadi terangsang dibuatnya. 

Kulepas mulutku, “aku suka nyusu susu mama.” lantas aku kembali nyusu.

Tanganku mencoba menaikan rok dasternya. Aku ingin cdnya lagi. 

“Mah,” kataku saat mulutku lepas dari satu puting menuju puting yang lain. 

Kata – kataku seolah membuat Bu Bambang makin liar. Kini dia menggesekan selangkangannya pada selangkanganku. Kuangkat terus dasternya, Bu Bambang menaikan pinggul agar dasternya bisa lewat.

Ternyata Bu Bambang gak pake cd. Kuelus pantat Bu Bambang. Jemariku kugerakan ke anusnya, lantas menurun hingga ke memeknya. Kucoba masukan jari ke memeknya, sedang jempolku mencari lubang anusnya. Lantas kumasukan dua jari ke memek Bu Bambang.

Kulepas tangaku dari memek Bu Bambang. Kuselipkan diantara tubuhnya dan tubuhku untuk melepas celana pendekku. Kuangakt pantat dan kudorong hingga lepas. 

“Jangan Li.”

Namun Bu Bambang tak bangkit. Bu Bambang hanya menggesek – gesek memeknya ke kontolku. Aku ingin lebih. Kubiarkan Bu Bambang untuk sesaat, agar dia mengira aku takkan bertindak lebih jauh lagi. 

Saat kurasakan nafsu Bu Bambang makin liar, kuputuskan untuk mencoba peruntungan. Ku angkat sedikit pantatnya lantas kucoba masukan kontol ke memeknya. 

Bu Bambang mengerang tanda protes. Tapi memeknya malah menurun mencoba menelan batang kontolku seutuhnya. 

“Jangan.”

Tapi pinggulnya berkata lain. Pinggulnya mulai bergerak liar. Tanganku memegang dan mengelus punggungnya agar tetap menyatu. Aku serasa di surga. Kuraih rambutnya dan kutarih agar wajahnya bisa kulihat.

Ekspresinya seolah tak peduli. Akhirnya aku keluar. Bu Bambang keluar. 

Kira – kira sepuluh menit Bu Bambang diam menindih tubuhku. Aku tak menyesal. Kukira Bu Bambang juga tak menyesali apa yang telah terjadi. 

“Wow,” aku akhirnya bersuara.
“Hehe.”
“Nikmat Bu.”
“Jangan panggil Ibu dengan kata mama.”
“Emangnya saya bilang mama?”
“Iya. Jangan ya!”
“Maaf Bu. Ali gak bermaksud...”
“Jangan dipikirin. Hanya saja malah membuat Ibu makin terangsang, makin liar lupa diri.”
“Benarkah?”

Bu Bambang tak menjawab, malah tertawa. 

“Kalau gitu, boleh gak Ali panggil mama?”
“Boleh. Kamu lebih terangsangkan kalau panggil ibu mama?”
“Iya. Gak tahu kenapa, mah.”
“Gak usah dipikirin.”

Bu Bambang lantas bangkit dan membenarkan dasternya.

“Ibu tahu kenapa kamu panggil ibu mama.”
“Benarkah? Kenapa?”

Bu Bambang memilih pergi daripada menjawab. Kenapa dia bilang begitu? Kenapa dia tahu kalau mamaku menyusuiku bahkan setelah aku bukanlagi bayi?

Meski bisa saja dia melihat mamaku menyusuiku, tapi batinku berkata kalau dia tahu lebih banyak lagi. 
Jadi apa maksudnya kalau dia tahu kenapa aku memanggilnya mama? Apa Bu Bambang tahu sesuatu antara aku dan mama kandungku? Apakah itu yang membuat Bu Bambang makin terangsang? 

Jangan – jangan Bu Bambang sudah ngentot anaknya? Rasanya tak mungkin Bu Bambang ngentot Eri, kecuali mungkin mengkhayalkannya. 

Jangan – jangan Pak Bambang tahu khayalan istrinya, hingga seperti tak menerima kehadiranku, meski kini sepertinya lebih bisa menerima kehadiranku. 

Semua pikiran ini malah membuatku pusing hingga akhirnya tidur.Aku bangun lantas melihat jam. Hari sabtu. Aku ingat, kalau sabtu Pak Bambang selalu keluar bersama teman – temannhya. Berarti hanya aku berdua sama Bu Bambang. Langsung aku bangkit dan keluar kamar. 

Kulihat Bu Bambang memakai pakaian yang belum pernah kulihat. Kaos ketat dengan rok mini.

“Gimana, kamu suka gak?” katanya saat melihatku menatapnya.
“Iya mah, suka.”
“Jangan mulai Li.”
“Iya deh. Tapi, pake apa pun pasti terlihat cantik kok.”
“Kok malah ngegombal.”
“Mau dibikini nasi goreng?”
“Gak ah, roti aja.”
“Yakin nih? Gak lama kok?”

Bu Bambang ingin menyenangkanku, kok aku malah nolak sih?

“Iya deh, nasi goreng.”
“Ibu juga lapar nih.”

Lantas Bu Bambang mulai memasak. Kulihat kakinya yang sungguh seksi, padat berisi. 

“Siap ntar nonton?”
“Iya.”
“Bakal banyak penonton lain lho. Tapi tenang aja, kan ada Ibu dan Bapak.”

Rupanya Bu Bambang menyadari tatapanku di pantatnya.

“Ntar, tunggu abis nonton.”
“Meski Ali sebut mama?”
“Iya,” jawabnya sambil menghela nafas.
“Oke deh mah. Udah mateng belum?”
“Bentar lagi. Ibu gak keberatan dipanggil mama, asal saat gak ada bapak.”
“Siap.”

Aku mendekat hingga berada di belakangnya.

“Mateng?”
“Iya, masih panas nih.”

Kupegang pantatnya. 

“Gak apa – apa, lagian belum laper bener kok.”

Bu Bambang menghindar berbalik mengambil piring, tapi aku ikuti. Kami makan sambil ngobrol. Sengaja beberapa kali aku memanggilnya mama. Saat Bu Bambang menuju wastafel untuk menaruh piringnya, kuikuti dari belakang. Lantas kutekan tubuhku. 

“Sabar dong, Bapak bentar lagi pulang.”
“Tahu,” bisikku ke telinganya. Tanganku kini mengelus perutnya. “Tapi kayaknya gak mungkin nonton kalau kayak gini.”
“Kayak gimana?”

Kugesekan gundukan di celanaku ke pantatnya, “kayak gini. Kayaknya Bapak bakalan marah kalau melihat benjolan di celanaku. Mama mesti bantu ngatasi.”

“Gimana? Waktunya mepet.”
“Ya, seperti. Yang Ali lakuin ke mama sebelum beli tiket.”

Bu Bambang diam, lantas berbalik. Kubiarkan saja. 

“Kamu mau, mama pake mulut mama?”
“Iya,” kataku sambil melorotkan celanaku.
“Tapi, mama gak bisa...”
“Tolong dong mah.”

Kutaruh tangan di bahunya lantas kutekan agar Bu Bambang menunduk. Aku mundur selangkah hingga Bu Bambang kini berlutut di hadapanku. Tanganku kini membimbing kepalanya agar lebih mendekat lagi. 

Bibirnya menyentuh kontolku. Lidahnya menyentuh kontolku.

“Oh... mah...”

Bu Bambang mulai memasukan kontol ke mulutnya. Lantas menarik kepalanya, lantas menekan kepalanya. Lambat awalnya namun temponya makin naik. Saat kepalanya bergenti bergerak, kurasakan sapuan lidahnya di kontolku. Elusan tangannya di testisku. 

Kucoba menekan rambut Bu Bambang karena ingin melihat wajahnya. Bu Bambang lantas menatapku dan tersenyum. 

Kepalanya kembali bergerak mencoba menunaikan tugas. 

Suara mobil Bapak terdengar.

Gerakan kepala Bu Bambang makin cepat. 

“Ayo mah.”

Suara kocokan kontol di mulut Bu Bambang terdengar erotis. Apalagi ditambah keberadaan Pak Bambang di luar rumah. Tanganku pun ikut beraksi di rambut Bu Bambang untuk mengatur ritme.

Hingga akhirnya aku tak tahan. Kusemburkan pejuku di dalam mulutnya. 

Kudengar suara pagar dibuka. Kutahan kepala Bu Bambang saat kontolku menyemburkan peju beberapa kali. Setelah selesai, kucabut dan kupakai kembali celanaku. Lantas ku melangkah ke kamarku.

*** 

Stadion penuh sesak. Tim kami menang. Kami pun pulang dengan hati senang. Mungkin karena capek, Pak Bambang langsung ke kamarnya. Tidur. 

“Makasih Li udah buat Bapak begitu senang.”
“Sama – sama mah.”
“Kamu lapar gak?”
“Enggak mah.”

Tatapan Bu Bambang seolah berkata 'mau tubuhku?', meski tanpa bicara langsung aku peluk dari belakang.
Kulepas pelukanku dan kulepas juga celanaku. 
Kumasukan tangan ke dalam rok Bu Bambang lantas melepas cdnya. 

Kuarahkan kontolku mencari memeknya hingga masuk.
Kumasukan tangan ke dalam kaosnya dan meremas susunya. 

Tak kuat berdiri, akhirnya Bu Bambang nungging sambil tangannya berada di kursi. 

“Dasar anak nakal. Ngentot mama saat papamu tidur.”

Kata – katanya malah makin membuatku terangsang. Kini kupegang bahunya. Goyanganku makin cepat hingga akhirnya keluar.

Setelah kontolnku berhenti menyemburkan peju, kami berdua duduk di sofa. Kupegang dagunya dan kucoba menciumnya. Dia menghindar.

“Udah, sana. Sebentar amat sih.”
“Maaf mah. Nanti pasti lama kok.”
“Iya, nanti. Bukan malam ini.”
“Tapi Bapak kan udah tidur?”
“Iya, bentar lagi ibu juga nyusul.”
“Ayo dong mah.”
“Gak usah merajuk. Gak mempan tahu.”

Bu Bambang tertawa lantas melangkah ke kamarnya. 

*** 

Saat berbaring di ranjang, aku masih memikirkan kata – kata bu Bambang, 'Ibu tahu kenapa kamu panggil ibu mama.' Aku benar – benar mesti cari tahu apa maksud Bu Bambang. 

Aku pun tidur.Aku terbangun karena suara ribut. Lantas kufokuskan telingaku. 

“Semalam kok sebentar sih. Apa udah bosen ngegodanya?”
“Dia lagi gak mood.”
“Yang bener aja.”
“Baiklah, mama yang lagi gak mood. Mama lelah, juga takut kebablasan. Dia benar – benar terangsang, juga ingin yang lebih lagi.
“Kan sudah papa bilang.”
“Ya... ya... ya...”
“Papa hanya ingetin. Sebelum ini mama kebablasan sama Eri, trus mama tau sendiri apa yang terjadi.”
“Tenang aja. Asal papa gak ngacauin semuanya.”
“Enggak mama. Mama udah terlalu jauh.”
“Tapi liat keadaanya sekarang. Mungkin kalau mama melangkah agak jauh lagi, dia akan sembuh.”
“Ya Tuhan. Mah, dia anak kita.”
“Mama tahu. Mama hanya menolongnya. Daripada dokter – dokter itu.”
“Iya. Mama memang menolongnya. Di sisi lain, mama juga mengacaukannya. Kalau mama terlalu jauh, mungkin malah kacau.”
“Dia baik – baik saja sebelum papa mengacaukan segalanya.”
“Iya, papa memang pengacau, tapi mama juga ikut andil.”
“Tenang saja. Dia bisa mama kontrol.”
“Terlambat mah. Kalau mama menentukan batasan – batasan yang wajar, mungkin mama masih bisa menanganinya. Tapi mama malah ikut menikmatinya. Eri gak salah mah. Dia hanyalah bocah. Mama yang bertanggung jawab.”

*** 

Edan, ternyata Bu Bambang bermain dengan anaknya. Bahkan dengan sepengetahuan Pak Bambang. Pantesan saja Pak Bambang seperti gak suka aku tinggal di rumahnya. 
Tapi kenapa Pak Bambang kini seolah senang dengan keberadaanku?

*** 

“Mama gak menikmatinya. Mama hanya mencoba menolong anak kita. Setelah semua pengobatan yang kita beri tak ada artinya.”
“Iya, apa yang mama lakukan memang sangat membantu Eri. Papa akui cara mama bisa mengembalikan Eri, meski hanya sebentar. Tapi papa harap, kini mama mesti hati – hati. Jangan kebablasan.”
“Iya. Mama gakkan kebablasan. Mungkin mama akan biarkan dia mencium, meraba dan atau bahkan melihat mama telanjang.”
“Gak apa – apa. Selama mama bisa mengontrolnya.”
“Itulah yang mama coba andai papa berhenti mempertanyakan.”
“Baiklah. Papa nyerah.”
“Mama bakal bisa ngontrol Eri.”
“Ali mungkin maksud mama.”
“Eh iya, Ali.”

*** 

Gila, makin edan aja. Bu Bambang udah main – main sama Eri. Bahkan Pak Bambang tahu istrinya mulai mempermainkanku, tapi tak tahu seberapa jauh permainanku dengan istrinya. 

Aku sih yakin Bu Bambang gak ingin mengontrolku, yang ada malah dia juga menikmatinya. Mungkin Bu Bambang sangat menikmati permainannya dengan anaknya, kini dia mencoba dengan teman anaknya. Jadi gak sabar nunggu Pak Bambang pergi biar bisa main – main sama istrinya.

*** 

Aku keluar kamar setelah mendengar mobil Pak Bambang pergi. Kucari Bu Bambang, namun tiada kudapati. Akhirnya aku menuju kamarnya. 

Rupanya Bu Bambang sedang bercermin, tubuhnya telanjang tetapi tangannya memengan daster tipis yang dipegang di depant tubuhnya.

Menyadari kehadiranku, Bu Bambang berbalik.

“Gimana menurutmu, bagus gak kalau Ibu pake ini?”
“Iya, cocok.”
“Tapi kayaknya gak bakalan dipake deh.”
“Kenapa?”
“Abisnya seksi banget sih.”
“Memang seksi sih.”
“Memang kenapa?”

Bu Bambang seperti tak mendengar pertanyaanku.

“Memangnya kenapa?” kataku.
“Memangnya kenapa, mah?” kata Bu Bambang.
“Memangnya kenapa, mah?” kuulangi kata – kata Bu Bambang.
“Kamu tadi menguping yah?”
“Iya.”

Tapi aku tak mau membicarakannya. 

“Bapak merasa mama terlalu menggodamu.”
“Oh.”
“Gimana menurutmu?”
“Ali sih gak benci kok sama Bapak.”
“Iya. Mama tahu kamu gak benci sama Bapak. Tapi, gimana menurutmu soal godaan mama, apakah terlalu berlebihan?'

Godaan? Memangnya apa sih yang mau dia katakan? Dia telah merasakan kontolku, kok malah mempersoalkan godaannya sih? 

“Mungkin, kalau Bapak tak suka, sebaiknya memang dihentikan saja.”
“Tapi kamu suka kan?”
“Iya mah.”
“Mama juga suka. Menurut mama, terserah kamu aja.”
“Ya... kalau … Bapak gak usah dikasih tahu aja.”
“Jadi kamu gak ingin mama menggodamu saat ada Bapak?”
“Kayak gitulah.”
“Tapi kalau Bapak gak dirumah, gak apa – apa, gitu?”

Apakah ini jebakan? Entahlah, aku tak bisa memastikannya. 

“Iya, kalau Bapak gak ada, rasanya gak akan membuat Bapak protes.”
“Mama juga berpikir seperti itu. Mau bantu mama gak?”
“Bantu apa?”
“Tolong tumpuk dua bantal mama ditengah – tengah kasur.”
“Iya deh.”
“Bukan 'iya deh,' tapi 'iya mah.'”
“Iya Mah.”

Kulakukan keinginannya. Bu Bambang lantas melepaskan pakaiannya, membuat pakaiannya jatuh ke lantai. Akhirnya aku bisa melihatnya berdiri telanjang, secara jelas. Bu Bambang lantas berbaring di atas bantal. Bantal itu ditekan perutnya, membuat pantatnya menungging ke atas dengan jelas. Kedua kakinya dilebarkan. 

Aku diam melihat, tak tahu apa yang harus aku lakukan.

“Bapak lagi gak ada di rumah,” katanya lirih.

Aku tetap diam selama beberapa detik, mencoba mencerna kata – katanya. Lantas kulepas pakaianku hingga telanjang. Aku naik ke kasur.

“Li.”
“Iya,” jawabku sambil mengarahkan ujung kontol ke memeknya. 
“Kalau kamu mau panggil Ibu dengan sebutan mama, kamu gak keberatan kan kalau Ibu panggil dengan kata 'Eri'?”

Wow.... gila, rasanya jadi makin liar, nakal, brutal membuat semua orang menjadi gempar.

Dulu, memanggil Bu Bambang dengan sebutan 'mama' aja udah ganjil, meski aku diperlakukan dengan begitu ramah. 
Tapi kini, mendengar dia ingin memanggilku 'Eri,' membuatku yakin pernah ada sesuatu antara Bu Bambang dan anaknya. Sesuatu yang, mungkin, sama seperti ini. Bahkan, mungkin, lebih jauh lagi. Jangan – jangan dia rindu sama anaknya. Aku bahkan makin terangsang.

“Boleh mah. Panggil aja Eri.”
“Oh, Eri. Kamu mau ngapain sama mama sayang?”

Tangan Bu Bambang meraih pantatnya dan melebarkannya membuat lubang anusnya seperti membesar. Gila, apakah ini undangan untuk mencicipi anusnya? Waw. Permainan jadi Eri rupanya membuat Bu Bambang jadi makin gila.

Kumasukan kontolku, perlahan, ke memeknya. Saat kepalanya terbenam, kutarik lagi. Tapi tangan Bu Bambang tetap di tempatnya, membuat anusnya seperti melebar. Jangan – jangan dia ingin aku masuk ke sana.

Apa dia menungguku memutuskannya sendiri? Tiap kali kontolku menusuk memeknya, pantatnya serasa menggoda. Setelah beberapa pompaan, akhirnya aku ingin melepas rasa penasarananku. 

Kucabut kontol dan kutusukan ke anusnya. Mentok. Susah. Kucoba lagi dan lagi. Tetap mentok. Tetap susah. 

“Pake pelumas dong Ri.”

Betapa mudahnya Bu Bambang mengucap nama Eri, seolah begitu alami, seolah lupa akan nama asliku. Mungkin, merasakan anusnya dicoba ditusuk membuat Bu Bambang lebih menginginkan anaknya daripada teman anaknya. 

Kutekan lagi kontolku.

“Lumasi Ri. Lumasi.”

Tangan kiri Bu Bambang lepas dari pantatnya, lantas mengambil pelumas dari sisi kasur. Pelumas itu diberikan padaku dan langsung kuambil. Kubuka dan kutumpahkan isinya ke anus Bu Bambang. Juga ke kontolku. 

Kucoba masukan jari ke anusnya.

“Oh Ri. Udah lama mama gak ngerasain.”
“Benarkah? Berapa lama?”

Kugerakan jemari di anus Bu Bambang. Ternyata gak susah – susah amat. Saat jari kucabut, aku heran melihat gak ada bercak – bercak tainya. Aku sungguh amatir...

“Sejak kamu pergi.”

Kini kumasukan telunjuk dan jari tengah ke anusnya membuat Bu Bambang mengerang seperti keenakan. Kumankan jemari di anus Bu Bambang kira – kira selama lima menit. Pantatnya pun ikut bergerak, seolah tak ingin diam membiarkanku asik sendiri. 

Akhirnya kuputuskan menarik jemari dan menggantinya dengan kontolku. Kali ini kontolku bisa masuk dengan mudah. Anusnya bener – bener sempit, padahal tadi jemariku begitu mudah bermain di dalamnya. 

“Oh, pelan – pelan Ri.”

Aku diam, tak ingin melukainya. 
Kugerakan perlahan. Perlahan. Bener – bener sempit. 
Kutarik kontolku hingga akan lepas, lantas kudorong lagi. 

“Terus Ri, enak.”

Aku jadi lupa diri. Kutekan dengan agak bertenaga. 

“Ahhhh...”

Kutekan hingga akhirnya kontolku terbenam seluruhnya. Lantas aku diam, Bu Bambang diam. Kutarik perlahan, Bu Bambang kembali mengerang. Baru kali ini kudengar Bu Bambang mengerang seperti ini. Erangan yang sungguh – sungguh erotis. 

Kudorong lagi kontolku. 
Kutarik lagi konolku.

Terus begitu beberapa kali.
Bu Bambang terus mengerang tiada henti.

Setelah agak lancar, kumulai mempercepat tempo. 
Erangan Bu Bambang makin tak jelas. Makin menyerupai erangan hewan.

Hingga akhirnya kucengkram pantat Bu Bambang. Kutusukan kuat – kuat saat kontolku menyemburkan pejunya. 

Kulepas kontolku lantas duduk. Pejuku mengalir keluar dari anusnya hingga ke memeknya dan terus ke pahanya. 

“Eri ingin kayak gini terus mah.”
“Mama tahu.”
Hubungan kami berubah semenjak kemarin. Aku jadi makin percaya diri. Bahkan saat ada Pak Bambang. Yang pasti, disuruh kemana pun kini aku tak lagi takut. Begitu Pak Bambang angkat kaki dari rumah, langsung kuentot Bu Bambang. Di memek, di anus dan atau di mana pun kusuka. Tapi sejujurnya, aku lebih suka ngentot memeknya. 

Bu Bambang mulai memanggilku Eri setiap saat. Tentu aku takut, pada awalnya. Saat aku makan malam sama Bapak dan Ibu Bambang, Bu Bambang nyuruh sesuatu.

“Ambilin itu dong Ri.”

Pak Bambang langsung diam, lantas melihat istrinya. Aku melihat Pak Bambang. Aku terkejut. Aku takut. Lantas Pak Bambang bersuara.

“Ambil Ri, kasih ke mamamu!”

Kini Bu Bambang tak ragu lagi memanggilku Eri meski ada suaminya. Bahkan Pak Bambang pun ikut memanggilku Eri. Pak Bambang mulai memperlakukanku seolah aku Eri, anaknya. 

***

Suatu pagi, sehabis Pak Bambang pergi, aku melangkah ke kamar Bu Bambang. Lantas kami ngentot. Setelah ngentot, aku berbaring di ranjang sementara Bu Bambang mandi. Beberapa saat kemudian, Bu Bambang keluar, lantas bersolek.

“Kok langsung mandi mah. Emang mau kemana?”
“Gak kemana – mana. Ingat dong Ri, mandilah kamu sebelum kamu dimandikan.”
“Ah mama. Ada – ada aja.”

Aku bangkit begitu Bu Bambang selesai memakai pakaian. Begitu keluar dari kamar, aku mendadak tergelitik untuk keruangang lain. Bukannya ke kamarku dan atau ke ruang tamu, aku penasaran akan keadaan kamarnya Eri, tempat saat aku sering bermain dengan Eri saat kami kecil.

Mungkin karena Bu Bambang menyadari ketergelitikanku, beliau mengikutiku dari belakang. Aku lantas menuju kamar Eri dan masuk. Tempatnya masih seperti dulu. Kusadari Bu Bambang melihatku dari pintu kamar Eri, namun beberapa saat kemudian, kudengar langkahnya menjauh pergi. Aku melihat – lihat kamar Eri selama kira – kira sepenanakan nasi.

*** 

Aku keluar dari kamar Eri menuju dapur. Kulihat Bu Bambang sedang masak.

“Mau makan apa Ri. Kira – kira Bapak pingin dimasakin apa ya?”
“Gak tahu. Kalau menurut mama, kira – kira papa ingin makan apa?”

Bu Bambang tak terkejut dengan ucapanku karena telah beberapa hari aku memanggil Pak Bambang dengan sebutan papa atau ayah. Rasanya kini aku jadi lebih terbiasa memanggil mereka dengan sebutan mama dan atau papa. 

*** 

Beberapa hari berlanjut dengan rutinitas yang sama. Aku selalu ngentot mama saat papa pergi. Lantas kalau papa libur, papa selalu mengajakku keluar. Entah makan – makan atau sekedar jalan – jalan. 

*** 

Jadi begini, beberapa hari ke belakang, saat aku ke kamar Eri. Suasananya masih seperti yang kuingat dulu. Kasur, lemari, beberapa benda milik Eri. Juga pelbagai bingkai berisi foto – foto Eri, dari mulai kecil hingga gede. Saat Eri sendiri maupun bersama keluarganya.

Saat melihat foto – foto Eri aku benar – benar terkejut. Wajah di foto itu adalah wajahku.

*** 

Sudut pandang anak selesai.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar